Deforestasi Terus Berlangsung di Tengah Riuhnya Berita Pandemi

  • Whatsapp
Deforestasi Terus Berlangsung di Tengah Riuhnya Berita Pandemi
(Penggundulan hutan di Indonesia justru meningkat di tengah pandemi COVID-19. Data satelit menunjukkan hutan hujan tropis di Indonesia sepanjang Maret 2020 lenyap 1.300 km persegi atau lebih dari dua kali lipat luas Jakarta. Foto : Eco Watch)
Rolasnews.com – Riuh rendah berita tentang pandemi Corona, menenggelamkan aktivitas deforestasi atau penggundulan hutan hujan tropis di seluruh dunia. Hanya sedikit media mainstream yang mengangkat kabar mengenai kembali meningkatnya illegal logging yang saat ini sudah pada skala yang mengkhawatirkan.

Demikian rilis penelitian yang dilakukan World Wildlife Fund (WWF) Jerman yang dipublikasikan pekan lalu.

Penelitian tersebut menganalisa data satelit dari 18 negara yang dikompilasikan oleh University of Maryland, AS. Hasil data satelit menunjukkan bahwa deforestasi pada bulan Maret lalu, naik 150% dibandingkan periode yang sama di tahun 2017-2019.

Read More

Sekitar 6.500 km persegi hutan hujan tropis digunduli sepanjang bulan Maret saja. Menurut WWF Jerman, luasan itu sama dengan tujuh kali ukuran wilayah Berlin.

“Hal ini menunjukkan di kala kita sibuk dengan pandemi, pada saat yang sama laju deforestasi meningkat pesat,” kata Christoph Heinrich, kepala konservasi alam WWF Jerman.

Penggundulan Hutan Indonesia Paling Parah

Yang menyedihkan dari penelitian tersebut, Indonesia adalah yang paling parah laju pembalakan hutannya, yakni lebih dari 1.300 km persegi hanya pada bulan Maret saja.

Kemudian Republik Demokratik Kongo yang kehilangan hutannya seluas 1.000 km persegi dan diikuti Brazil yang hutan di kawasan Amazonnya lenyap 950 km persegi.

Penduduk di Kawasan Amazon
(Pembalakan liar dalam skala besar-besaran pada akhirnya akan menggusur penduduk asli di kawasan Amazon, Brazil. Foto : Amazon Frontlines)

Dilansir dari Kantor Berita DPA (Deutsche Presse-Agentur) Jerman, WWF mengungkapkan meningkatnya pengundulan hutan juga dipicu oleh merebaknya pandemi COVID-19.

Pemerintah di banyak negara kesulitan melakukan patroli/pengawasan akibat kebijakan lockdown yang mengharuskan warga tinggal di rumah. Situasi ini ternyata dimanfaatkan organisasi kriminal dan para pelaku illegal logging untuk diam-diam membabati hutan demi kepentingan mereka.

Selain itu, pandemi juga menyebabkan gelombang pengangguran besar-besaran di seluruh dunia yang membuat orang nekad mencari penghasilan dengan cara apa pun. Termasuk terlibat dalam aktivitas pembalakan liar.

Baca Juga : Bank Dunia : Pandemi Covid-19 Ciptakan Jutaan Orang Miskin Baru di Asia

WWF melaporkan bahwa perdagangan kayu secara legal merupakan sumber pendapatan yang penting bagi sejumlah negara di Afrika. Namun kebijakan pembatasan mobilitas penduduk yang ketat mengacaukan mata rantai sektor perdagangan kayu sehingga upaya konservasi hutan tak dapat dilakukan secara optimal.

Sementara di sepanjang Sungai Mekong yang melintasi wilayah teritorial China serta beberapa negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam dan Thailand, berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sektor pariwisata turut menghilang.

Padahal sektor pariwisata di kawasan ini menjadi urat nadi penghasilan bagi penduduknya. Para pedagang lokal yang menjual aneka produk hutan seperti madu dan buah-buahan, kehilangan mata pencaharian. Mereka pun terpaksa kembali ke desa asal masing-masing dan menebangi pohon untuk dijadikan kayu bakar atau dijual untuk menutup kebutuhan hidup.

Oleh karena itu, WWF menyarankan agar pemerintah setempat memberi dukungan finansial dan teknologi kepada penduduk demi upaya mengurangi laju deforestasi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *