Rolasnews.com – Nilai tukar rupiah kini sudah menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), yang secara psikologis merupakan terlemah sepanjang sejarah. Terus merosotnya nilai tukar rupiah ini dipicu oleh kombinasi guncangan global dan kerentanan domestik yang mendorong Presiden Prabowo Subianto mengesahkan tujuh strategi intervensi untuk meredam gejolak di pasar keuangan serta mencegah Capital Flow.
Berdasarkan data Bloomberg pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah melemah 0,37 persen ke posisi Rp17.479 per dolar AS, sebelum akhirnya menyentuh level Rp17.502 hingga Rp17.520 tidak lama kemudian.
Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah intraday sepanjang masa bagi rupiah. Melanjutkan tren pelemahan sejak sehari sebelumnya yang sudah berada di Rp17.414 per dolar AS .
Pelemahan rupiah kali ini bukan semata-mata disebabkan oleh sentimen domestik. Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa meredupnya harapan damai antara AS dan Iran membuat pelaku pasar kembali mencari aset safe-haven seperti dolar AS. Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi (Brent naik 0,29 persen ke USD104,51 per barel dan WTI naik 0,32 persen ke USD98,38 per barel) turut menekan mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Selain itu, pasar juga mengantisipasi hasil pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang diperkirakan tidak akan membawa kabar positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sehingga semakin memperberat tekanan terhadap rupiah.
Pemerintah Siapkan 7 Langkah Strategis Cegah Capital Flow
Merespons tekanan yang semakin besar, Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat darurat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 5 Mei 2026. Dalam rapat tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan bahwa presiden telah menyetujui tujuh strategi intervensi utama untuk menstabilkan rupiah dan membendung arus modal keluar (capital outflow).
Berikut 7 langkah yang diambil:
1. Intervensi Pasar Valas Secara Agresif (Onshore dan Offshore)
BI akan meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam maupun luar negeri, dengan mengandalkan cadangan devisa yang, menurut Perry, “lebih dari cukup untuk menstabilkan rupiah”.
2. Penerbitan Sekuritas Rupiah BI (SRBI)
Untuk menarik kembali modal asing dan mengimbangi dana yang keluar dari pasar saham serta Surat Berharga Negara (SBN), BI akan memaksimalkan instrumen SRBI. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat capital inflow dan menjaga keseimbangan portofolio asing.
3. Memperkuat Koordinasi Fiskal-Moneter
BI bersama Kementerian Keuangan akan bekerja sama lebih erat. Salah satu bentuknya adalah pembelian SBN dari pasar sekunder oleh BI, yang sejak awal tahun telah mencapai Rp 123,1 triliun (sekitar 7,5 miliar dolar AS) untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar obligasi.
4. Menjaga Likuiditas Perbankan yang Akomodatif
Untuk memastikan sistem perbankan tetap stabil, BI menjaga pertumbuhan uang primer pada level dua digit (tercatat 14,1%), sehingga likuiditas di pasar uang dan perbankan tetap terjaga.
5. Memperketat Pembelian Dolar AS di Pasar Domestik
Guna mengekang spekulasi dan penimbunan valas, otoritas menurunkan batas maksimal pembelian dolar AS tanpa aset dasar (underlying asset) dari USD100.000 menjadi USD50.000 per orang per bulan. BI bahkan tengah menyiapkan aturan untuk menurunkannya lebih lanjut menjadi USD25.000, di mana setiap pembelian di atas angka itu harus disertai bukti transaksi.
6. Memperluas Intervensi melalui Instrumen Non-Deliverable Forward
Bank-bank domestik kini diizinkan untuk menjual Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Langkah ini bertujuan menambah pasokan valas dan menstabilkan nilai tukar rupiah di pasar internasional.
7. Pengawasan Sistemik dan Inspeksi Mendadak
BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membentuk tim inspeksi khusus yang dikirim ke bank dan grup bisnis dengan catatan pembelian dolar AS dalam jumlah besar yang tidak wajar. Langkah ini untuk memastikan tidak ada aktivitas yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.
Sinergi BI–Kemenkeu
Selain tujuh strategi dari BI, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa pemerintah juga memperkuat sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan untuk memastikan pergerakan capital outflow dapat dijaga.
Airlangga menjelaskan bahwa arus modal keluar terutama berasal dari pasar modal dan SBN, namun sebagian telah dinetralisasi oleh instrumen SRBI.
Dengan kombinasi berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap dapat meredam volatilitas nilai tukar rupiah dan menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.






