Rolasnews.com – Harga telur ayam ras di tingkat peternak tengah mengalami penurunan tajam. Di sejumlah daerah sentra produksi, harga jual telur kini berada di bawah biaya produksi, membuat para peternak kecil dalam tekanan kerugian yang semakin dalam.
Di wilayah kantong produksi utama seperti Blitar, Malang, dan Kediri, harga telur di tingkat kandang terpantau anjlok ke kisaran Rp21.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Padahal, biaya produksi yang harus ditanggung peternak seringkali menembus angka Rp25.000 hingga Rp27.000 per kg.
Kesenjangan ini menciptakan kondisi “jual buntung” yang mengancam keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Penurunan harga ini mulai terasa signifikan setelah periode Lebaran Idul Fitri 2026. Di tingkat konsumen, harga memang ikut terkoreksi menjadi lebih rendah dibandingkan sebelum hari raya, namun masih relatif stabil di kisaran Rp26.000–Rp33.000 per kg, bergantung pada wilayah.
Ironisnya, disparitas harga yang lebar justru terjadi di tingkat hulu, di mana para produsen menerima harga jual paling rendah.
Bagi konsumen rumah tangga, situasi ini tentu menjadi kabar baik karena harga protein hewani menjadi lebih terjangkau. Namun, di sisi lain, kondisi ini adalah pukulan berat bagi peternak yang tengah berjuang menutup biaya operasional.
Penyebab Harga Anjlok
Setidaknya terdapat empat faktor utama yang menjadi pemicu anjloknya harga telur:
1. Kelebihan Pasokan (Oversupply)
Indonesia telah mencapai swasembada telur dengan produksi nasional yang stabil di angka 18.000 ton per hari. Namun, pasokan sebesar ini kini melebihi daya serap pasar. Akibatnya, stok telur menumpuk di gudang-gudang kandang.
2. Permintaan Melemah Pasca Hari Raya
Tren penurunan konsumsi setelah Lebaran merupakan siklus tahunan. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat rumah tangga dan sektor industri makanan melakukan penghematan, sehingga permintaan terhadap telur ikut melorot.
3. Beban Biaya Produksi Tinggi
Peternak, khususnya skala kecil, kini berada dalam “jepitan gunting harga”. Di satu sisi, harga jual telur merosot, namun di sisi lain, biaya pakan ternak terutama jagung masih bertengger di level mahal, yakni sekitar Rp7.100 per kg. Peternak besar yang memiliki rantai produksi terintegrasi lebih mampu bertahan, sementara peternak rakyat semakin terdesak.
4. Distribusi Belum Merata
Sentra produksi didominasi di Pulau Jawa, sementara harga di luar Jawa seperti Sumatera atau Kalimantan masih lebih tinggi karena ongkos logistik. Gangguan distribusi ke kota-kota besar turut memperparah penumpukan stok di daerah produsen.
Peternak Bisa “Mutung”
Dampak dari situasi ini mulai terlihat nyata. Banyak peternak skala kecil terpaksa mengambil langkah ekstrem seperti mengurangi populasi ayam petelur demi menekan kerugian.
Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa intervensi, bukan tidak mungkin akan terjadi kelangkaan pasokan di masa depan yang berpotensi memicu lonjakan harga secara tiba-tiba.
Di tengah situasi ini, pemerintah didesak untuk segera turun tangan. Sejumlah pihak mengusulkan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipercepat realisasinya guna menjadi katup penyerap surplus telur.
Operasi pasar juga dinilai penting untuk menstabilkan harga di tingkat konsumen sekaligus membantu peternak.






