Tradisi Saling Lempar Batu di India Lukai Puluhan Orang Hanya dalam 7 Menit

  • Whatsapp
Tradisi Saling Lempar Batu di India Lukai Puluhan Orang Hanya dalam 7 Menit
(Perayaan tradisi Bagwal di Uttarakhand, India. Credit: Caters News)

Rolasnews.com – Setiap tahun ratusan orang dari negara bagian Uttarakhand, India, terlibat dalam Bagwal, tradisi bertempur saling lempar batu yang brutal dan kerap mengakibatkan puluhan orang terluka parah sehingga membutuhkan penanganan medis serius.

Secara harfiah, Bagwal memang berarti “bertempur dengan batu” ke arah lawan. Dalam Bagwal tahun ini, warga dari empat klan berkumpul di Distrik Champawat di Uttarakhand, India utara, untuk ambil bagian dalam tradisi tersebut.

Read More

Kendati jelas beresiko terluka parah terkena batu-batu yang beterbangan di udara, warga tetap antusias. Darah yang mengucur dari tubuh yang terluka terkena lemparan adalah inti dari Bagwal.

Legenda yang hidup di masyarakat setempat, salah seorang dewa Hindu, Barahi, membuat kesepakatan dengan manusia untuk melindungi mereka dari serangan iblis dengan imbalan pengorbanan dalam bentuk darah.

Apalagi konon Devidhura, kota tempat perayaan Bagwal digelar setiap tahunnya, pernah diserang oleh pasukan iblis. Karena tak kuasa melawan pasukan iblis itu, empat klan lokal, Walik, Chamyal, Lamgaria dan Gaherwal, berdoa kepada Dewi Barahi untuk menyelamatkan mereka.

Sang dewi setuju. Namun ia menetapkan syarat harus ada pengorbanan darah manusia yang ditujukan khusus untuknya setiap tahun. Masing-masing klan pun menyanggupi syarat tersebut.

Setiap tahun pada hari Rakhi atau Raksha Bandhan, festival tahunan agama Hindu, anggota dari keempat klan itu mengorbankan masa lajang terakhir mereka untuk menghormati Dewi Barahi dengan ambil bagian dari saling lempar batu ke klan lainnya. Darah yang tumpah dalam proses itu akan dianggap sebagai ganti pengorbanan manusia.

Perang Batu di Tradisi Bagwal
(Berlindung dari hujan batu. Credit: Haridwar Tourism)

Tak jelas kapan tradisi Bagwal bermula. Akan tetapi diperkirakan sudah berlangsung beberapa abad dan anak keturunan dari keempat klan masih loyal menjalankan apa yang dilakukan para leluhur mereka.

Sebenarnya di tahun 2013, otoritas setempat mencoba mengganti batu dengan buah-buahan atau bola karet demi menghindari cedera fatal. Pengadilan tinggi India juga sudah melarang penggunaan batu-batu besar di perayaan Bagwal. Namun tidak digubris warga. Pasalnya, pengorbanan darah menurut mereka justru adalah inti dari perayaan tradisi tersebut.

Baca Juga :

Festival San Fermin Tahun Ini Tanpa Adegan Kejar-Kejaran dengan Banteng

Tahun ini, dengan masih berkecamuknya pandemi, sempat muncul harapan tradisi saling lempar batu Bagwal tidak dirayakan atau paling tidak jumlah pesertanya tidak semembludak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Para peserta dari keempat klan tetap bersikeras menjalankan tradisi dan saling melempar batu-batu besar ke arah lawan.

Penghormatan kepada Dewi Barahi
(Demi penghormatan kepada Dewi Barahi. Credit: Amarujala)

Bagwal hanya berlangsung 7 menit. Tetapi waktu yang singkat itu sudah cukup membuat 77 dari 300 peserta mengalami luka serius dan memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Di tahun 2019 bahkan dilaporkan peserta yang cedera mencapai lebih dari 100 orang.

Uniknya, semakin banyak yang cedera dan semakin banyak darah yang tertumpah, perayaan dianggap semakin sukses. Ya karena memang itu adalah tujuan dari penyelenggaraan tradisi. Pengorbanan darah manusia untuk menghormati Dewi Barahi. (TON)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *