Dear Bapak dan Ibu Guru, Ini Lho Ada Saran dari PBB

Dear Bapak dan Ibu Guru, Ini Lho Ada Saran dari PBB
(Anak-anak bersekolah di masa pandemi. Credit: UPI)
Rolasnews.com – Kapan ya bisa masuk sekolah lagi? Pertanyaan yang mungkin kembali muncul setiap tahun ajaran baru. Baik yang keluar dari mulut anak-anak, orang tua murid, begitu pula Bapak dan Ibu Guru.

Termasuk tahun ajaran baru 2021–2022. Semenjak berkecamuknya wabah COVID-19, ini merupakan tahun ajaran baru yang kedua. Jawabannya pun tetap sama. Tidak ada pembelajaran tatap muka, alias PTM. Untuk yang ketiga kalinya pembejaran siswa di sekolah dijalankan dengan sistem daring.

Tapi, berkaca dari tahun ajaran lalu, efektifkah itu?

Read More

Jawabannya, tidak. Seperti hasil dari survey Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada tahun ajaran 2020–2021, sebanyak 70 persen orang tua yang punya anak sekolah umur 3 – 12 tahun menyatakan sekolah daring tidak efektif.

Di dalam Pertemuan Pendidikan Global UNESCO, Direktur Jenderal Audrey Azoulay dan Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore, mengungkapkan bahwa 19 negara masih menutup ruang kelasnya. Termasuk Indonesia.

Penutupan sekolah itu memengaruhi lebih dari 156 juta siswa yang dapat mengakibatkan anak-anak kehilangan pendidikan. PBB pun menyebutkan, penutupan sekolah juga memengaruhi orang tua dan pengasuh.

Karena itu PBB mempunya usulan yang bisa diterapkan untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga. Terutama di negara-negara yang sampai saat ini masih belum juga menggelar PTM.

Seperti di laporan PBB, hanya sepertiga negara yang kebanyakan dari negara berpenghasilan tinggi sudah mengambil langkah-langkah diperlukan demi mengejar kehilangan pembelajaran di sekolah.

Direktur Institut Statistik UNESCO, Silvia Montoya, menyebut, Program Remidial bisa menjadi solusinya.

“Sangat penting negara-negara berinvestasi dalam menilai besarnya kerugian tersebut untuk menerapkan langkah-langkah remidial yang tepat,” tutur Montoya.

Negara-negara yang dimaksud Montoya tersebut adalah sepertiga negara berpenghasilan rendah dan menengah. Seperti survey dari total 142 negara mulai dari Februari sampai Mei 2021 dan di empat tingkat pendidikan.

Baca Juga :

Nadiem Luncurkan Panduan Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi

Survey itu juga mencakup bagaimana negara-negara untuk mengatasi tantangan PTM dan strategi pembelajaran jarak jauhnya. Hasilnya, sebagian besar negara mendorong siswanya untuk kembali ke sekolah dengan berbagai langkah.

“Seperti dengan keterlibatan masyarakat, pelacakan berbasis sekolah, insentif keuangan, dan peningkatan layanan air, sanitasi, dan kebersihan,” sambung Montoya di dalam laporannya tersebut.

Artikel PBB itu juga didukung dengan hasil riset yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Science di AS, April lalu. Di Los Angeles, AS, serikat guru di sana sudah membuka kembali beberapa sekolah.

“Temuan (kami) menyiratkan bahwa siswa membuat sedikit atau tak ada kemajuan saat belajar dari rumah. (Dan) di negara-negara dengan infrastruktur yang lebih lemah smembuat mereka terpaksa menutup sekolah lebih lama. Sehingga kerugiannya juga akan lebih besar,’’ klaim laporan riset tersebut.

Jadi, Bapak dan Ibu Guru, banyak cara untuk menjaga kualitas pendidikan di masa pandemi. Salah satunya yang bisa dipertimbangkan adalah Program Remedial. (YMP)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.