Pertumbuhan Ekonomi Lesu, Tapi Masih Ada Harapan Tak Sampai Resesi

Pertumbuhan Ekonomi Lesu, Tapi Masih Ada Harapan
(Pertumbuhan ekonomi dipastikan melambat. Namun masih ada harapan tidak sampai resesi. Foto : Ist)
Rolasnews.com – Perlambatan ekonomi hampir bisa dipastikan akan dialami seluruh negara menyusul pandemi Corona Virus (Covid-19). Tak terkecuali Indonesia. Meski harus mengubur dalam-dalam impian pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% seperti tahun-tahun sebelumnya, masih ada harapan Indonesia tak sampai terjerembab dalam resesi.

Hal ini diungkapkan oleh  Wahyu S. Prabowo, seorang praktisi pasar modal. Menurutnya, kalau pun melambat, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih bisa bertahan di angka 4%. Pasalnya, semua bank sentral dunia ramai-ramai menggelontorkan stimulus.

“Baru-baru ini, The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) mengeluarkan kebijakan Quantitatif Easing (printing money untuk buy-back bond). Indonesia juga tidak ketinggalan dengan menurunkan suku bunga dari sisi moneter. Sedangkan dari sisi fiskal, pemerintah Indonesia pun mengeluarkan stimulus fiskal maupun pelonggaran relaksasi,” kata Wahyu saat diwawancarai via WA, Selasa (24/3).

Read More

Saat ini yang paling penting dilakukan pemerintah, lanjutnya, adalah penanganan wabah harus cepat dan tidak berlarut-larut agar ekonomi bisa segera pulih.

Indonesia sendiri sudah berpengalaman dalam menangani krisis di tahun 1997 dan 2008

Mengenai pergerakan rupiah yang terus melemah terhadap Dolar Amerika, (1 USD/Rp 16.250 per hari ini) Wahyu optimis tidak akan berlangsung lama. Karena The Fed mengeluarkan kebijakan QE dengan memasok suplai dolar yang teramat banyak, sekitar USD 1 triliun. Belum lagi ditambah dari upaya Pemerintah Amerika Serikat itu sendiri untuk menekan laju penguatan mata uangnya.

Wahyu S. Prabowo
(Wahyu S. Prabowo, praktisi pasar modal. Foto : Ist)

“US dolar menguat akhir-akhir ini karena faktor sentimen saja, sebagai safe haven. Apalagi money market di AS juga sedang tidak lancar. Jika sentimen negatif ini berubah menjadi sentimen positif, dolar akan turun,” tutur Wahyu.

Sementara itu, soal bergulirnya wacana melakukan lockdown untuk menghentikan penyebaran Covid-19, Wahyu secara tegas menolaknya.

“Lockdown itu pilihan terakhir. Kalau sudah betul-betul mendesak. Tapi menurut saya, instruksi untuk social distancing lebih masuk akal. Sebab, masyarakat sendiri, terutama kelas menengah ke bawah yang akan paling terkena jika sampai dilakukan lockdown,” tutupnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment