TPS Tanam 15.000 Bibit Mangrove, Perkuat Komitmen Pelestarian Ekosistem Pesisir dan Lingkungan Pelabuhan

TPS Tanam 15.000 Bibit Mangrove, Perkuat Komitmen Pelestarian Ekosistem Pesisir dan Lingkungan Pelabuhan
Ardiansyah, Humas TPS bersama Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari, sedang melakukan peninjauan 15.000 bibit mangrove di area mangrove TPS pada Sabtu (10/10/2026).

Rolasnews.com – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperkuat komitmennya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui layanan kepelabuhanan yang ramah lingkungan. Sebagai bagian dari Pelindo Group, perusahaan menerapkan strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) yang mencakup dekarbonisasi operasional dan konservasi ekosistem pesisir.

Salah satu langkah konkret adalah program elektrifikasi peralatan bongkar muat utama. TPS secara bertahap mengonversi penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi listrik. Langkah ini bertujuan menurunkan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional terminal.

Sejalan dengan itu, TPS mengembangkan program konservasi mangrove sejak 2010. Pada 2026, perusahaan bersama Kelompok Petani Mangrove Penggerak Konservasi Mandiri Lestari Sontoh Laut Surabaya kembali membudidayakan 15.000 bibit mangrove di area konservasi TPS.

Bibit-bibit tersebut diperkirakan siap ditanam dalam waktu sekitar delapan bulan ke depan untuk merehabilitasi kawasan pesisir Surabaya.

Konservasi mangrove menjadi salah satu program lingkungan strategis TPS karena memberikan manfaat ekologis yang luas. Selain menjaga kelestarian ekosistem pesisir, mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, termasuk sejumlah spesies burung migran dan satwa yang dilindungi.

Berdasarkan hasil pengukuran manfaat pembibitan dan penanaman mangrove yang dilaksanakan oleh TPS pada tahun 2026 bekerjasama dengan  Cempaka Foundation, diketahui bahwa kawasan mangrove TPS memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi serta kondisi vegetasi yang tergolong baik dan padat.

Dekarbonisasi dan Pembangunan Berkelanjutan

Dari aspek perubahan iklim, kawasan mangrove TPS juga berperan sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang signifikan. Hasil pengukuran menunjukkan kawasan mangrove TPS mampu menyerap karbon sebesar 623,11 ton karbon per hektare atau setara 2.286,8 ton CO₂ per hectare atau setara operasiona 180 hingga 200 unit truk pengangkut internal setiap hari.

Hal ini menjadikan area konservasi mangrove TPS sebagai salah satu aset lingkungan penting dalam mendukung upaya dekarbonisasi dan target pembangunan berkelanjutan.

Program mangrove TPS tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga menghadirkan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Melalui kerja sama dengan kelompok petani mangrove, TPS memberdayakan masyarakat dalam proses pengadaan bibit, pemeliharaan, pembesaran hingga kegiatan penanaman. Program ini menjadi sumber pendapatan alternatif yang sangat berarti bagi masyarakat pesisir sepanjang program dilaksanakan.

Di sisi lain, manfaat program ini juga dirasakan oleh para penerima bibit mangrove. Selain membantu memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi dan banjir rob, penanaman mangrove turut mendukung peningkatan kualitas lingkungan, menjaga habitat biota laut, memperbaiki kualitas udara, serta menyediakan manfaat ekologis jangka panjang bagi generasi mendatang.

Ardiansyah, Humas TPS, bersama Mahfud, Ketua Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari pada Sabtu (10/10/2026) di area mangrove TPS.
Konservasi Pesisir Surabaya

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan bahwa program pembibitan mangrove merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang mengombinasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

“Sebagai bagian dari Pelindo Group, TPS berkomitmen menghadirkan operasional pelabuhan yang semakin hijau dan berkelanjutan. Upaya elektrifikasi alat bongkar muat serta konservasi mangrove merupakan strategi yang saling mendukung dalam upaya pengurangan emisi karbon. Program pembibitan 15.000 mangrove ini bukan sekadar kegiatan penanaman pohon, melainkan investasi lingkungan dan sosial yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat dalam jangkar panjang,” ujar Erika.

Erika menambahkan, setelah mencapai usia tanam sekitar delapan bulan, bibit mangrove tersebut akan didistribusikan kepada berbagai pihak untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya.

Melalui distribusi tersebut, TPS berharap program rehabilitasi mangrove dapat memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam menjaga ekosistem pesisir Surabaya.

Perluasan area distribusi dan penanaman mangrove di wilayah pesisir Surabaya diharapkan mampu meningkatkan luas kawasan hijau pesisir, memperbesar kapasitas penyerapan karbon, memperkuat perlindungan pantai dari abrasi, serta memberikan dampak ekonomi dan sosial positif bagi masyarakat pesisir yang terlibat dalam program konservasi mangrove.

Menurut Erika, keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan dari besarnya dampak nyata yang dirasakan bagi lingkungan dan masyarakat.

“Dengan semakin luasnya kawasan mangrove yang terjaga, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan TPS bagi kualitas lingkungan, ketahanan pesisir, dan keberlanjutan hidup generasi mendatang,” tegasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *