Rolasnews.com – Langit di sejumlah sentra perkebunan tampak nyaris tak berubah selama berhari-hari. Biru terang, panas menyengat, dan tanpa setitik awan hujan. Bagi petani kakao, kopi, dan tebu, pemandangan itu bukan pertanda baik. Fenomena iklim yang selama ini mereka kenal sebagai “musim kering biasa” kini berubah wujud menjadi ancaman yang jauh lebih besar. Super El Nino.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik tengah dan timur telah melewati ambang netral selama beberapa pekan berturut-turut sejak awal Juni 2026. Hal ini menandai aktifnya fenomena El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
Sejumlah lembaga meteorologi di kawasan, termasuk di Vietnam, bahkan menyebut peluang El Nino berkembang menjadi sangat kuat. Setara dengan peristiwa besar 2015-2016, atau 1997-1998. Bahkan kini meningkat tajam dibanding proyeksi awal tahun.
Bagi orang awam, El Nino mungkin sekadar istilah cuaca. Namun bagi jutaan petani yang menggantungkan hidup pada tiga komoditas ekspor andalan ini, fenomena tersebut berarti curah hujan yang anjlok, suhu yang melonjak, dan ancaman nyata terhadap penghasilan mereka.
Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menghangat di atas rata-rata. Sehingga memicu pergeseran pola angin dan curah hujan secara global.
Di Indonesia dan sebagian besar Asia Tenggara, dampaknya berupa musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, terutama pada periode Juni hingga Januari.
Tanaman perkebunan seperti kakao, kopi, dan tebu sama-sama sangat bergantung pada pasokan air yang cukup dan pola hujan yang teratur untuk tumbuh optimal. Ketika curah hujan anjlok dan suhu naik drastis, ketiganya mengalami tekanan yang berbeda-beda. Tapi hasilnya sama saja. Sama-sama merugikan petani tiga komoditas perkebunan tersebut.
Kakao, dari Kebun Rakyat hingga Rekor Harga Dunia
Dampak El Nino terhadap kakao mungkin yang paling terasa di kantong konsumen global. Ketika El Nino kuat melanda pada 2023-2024, cuaca kering yang menghantam Pantai Gading dan Ghana, dua negara yang sama-sama memasok lebih dari 60 persen kakao dunia, mengakibatkan penurunan produksi yang drastis, diperparah cuaca buruk dan serangan penyakit tanaman.
Organisasi Kakao Internasional (ICCO) mencatat defisit pasokan global mencapai 374.000 ton pada musim 2023/2024. Menjadikannya defisit terbesar dalam 60 tahun terakhir.
Akibatnya, harga kakao dunia melesat tanpa henti. Dari level di bawah USD4.200 per ton pada awal 2024, harga sempat mendekati USD9.000 per ton dalam hitungan bulan. Bahkan sempat menyentuh hampir USD12.000 per ton pertengahan tahun itu.
Kenaikan ini bukan hanya deretan angka di bursa New York dan London. Tetapi juga menjalar hingga ke rak-rak toko cokelat, memaksa produsen besar seperti Hershey menaikkan harga jual kepada konsumen.
Sayangnya, lonjakan harga global itu tidak serta-merta menguntungkan petani kakao Indonesia.
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia, Arief Zamroni, mengungkapkan produktivitas kakao domestik justru terus menurun. Hal ini dipicu kombinasi usia tanaman yang sudah tua, alih fungsi lahan, dan cuaca ekstrem seperti El Nino.
Banyak petani kemudian beralih menanam kelapa sawit atau tebu karena kakao dinilai butuh perawatan yang jauh lebih rumit dibanding tanaman lain. Sebuah pilihan rasional bagi petani, namun ironis di tengah harga kakao dunia yang sedang tinggi-tingginya.
Penelitian di tingkat lapangan, seperti yang dilakukan di Desa Bussu, Kabupaten Polewali Mandar, juga mencatat kualitas buah kakao yang dihasilkan cenderung menurun akibat tekanan iklim ini.
Kopi, dari Robusta Indonesia Hingga Arabika Brasil
Kopi mungkin komoditas yang paling sensitif terhadap perubahan pola El Nino. Ini karena dua varietas utamanya, robusta dan arabika, justru terpengaruh dengan cara yang berlawanan.
Untuk robusta, El Nino adalah kabar buruk. Vietnam dan Indonesia, yang bersama-sama menyumbang sekitar separuh produksi robusta dunia, sangat rentan terhadap suhu tinggi dan curah hujan rendah yang dibawa fenomena ini.
Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional Vietnam melaporkan suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 telah naik signifikan sejak Mei 2026, menandai El Nino yang resmi terbentuk dan diperkirakan terus menguat hingga paruh kedua tahun ini.
Wilayah Dataran Tinggi Tengah Vietnam, sentra produksi robusta nasional yang menyumbang sekitar 95 persen produksi kopi negara itu, kini menghadapi ancaman kekurangan air irigasi menjelang musim kemarau 2026-2027.
Sejarah mencatat betapa besar dampak El Nino terhadap harga robusta. Pada 2024 hingga awal 2025, harga sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Menembus lebih dari 5.800 dolar AS per ton, sebelum akhirnya terkoreksi seiring ekspektasi panen besar Brasil. Kini, dengan El Nino baru yang tengah terbentuk, kekhawatiran serupa kembali muncul di pasar.
Sementara itu, arabika yang sebagian besar berasal dari Brasil, memiliki cerita berbeda. El Nino umumnya justru membawa curah hujan lebih tinggi ke sebagian wilayah Amerika Selatan pada awal periodenya, meski hujan berlebihan pada masa panen bisa memperlambat proses pemetikan dan menurunkan kualitas biji.
Data lembaga meteorologi Brasil, Somar Meteorologia, sempat mencatat curah hujan di Minas Gerais, wilayah penghasil kopi terbesar negara itu, melonjak jauh di atas rata-rata historis pada akhir Juni 2026. Hal ini membuat pengiriman kopi berjalan lebih lambat dari biasanya.
Adapun bagi petani kopi di dataran tinggi Indonesia, seperti di Jember, Jawa Timur, dampaknya sudah pernah terasa nyata.
Tenaga ahli Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Pujianto, menyebut kemarau panjang akibat El Nino pada 2023 sempat membuat tingkat kematian pohon kopi mencapai 30 persen di sejumlah kebun, dengan penurunan produksi di perkebunan besar mencapai 27 persen.
Untuk menyiasatinya, petani menanam pohon pelindung seperti pepaya di sela-sela kebun kopi. Sayangnya, ketika kemarau benar-benar ekstrem, tanaman pelindung itu pun ikut mati bersama kopi yang seharusnya dilindunginya.
Tebu dan Swasembada Gula
Jika kakao dan kopi menyita perhatian dunia lewat lonjakan harga di bursa internasional, dampak El Nino pada tebu justru bergerak lebih senyap namun tak kalah serius. Pada gilirannya, ini mengancam ambisi Indonesia mencapai swasembada gula.
Dalam sebuah seminar penguatan industri gula nasional di Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan, akhir April 2026, Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia, Aris Toharisman, mengungkapkan efek El Nino sudah mulai memengaruhi pertumbuhan tebu di lapangan.
Tanaman tebu yang mengalami tekanan panas cenderung berbunga lebih cepat dari biasanya. Begitu tanaman berbunga, proses pembentukan gula di dalam batang tebu praktis terhenti.
Kondisi ini membuatnya pesimistis target produksi tebu nasional sebesar 3,4 juta ton per musim bisa tercapai. Apalagi ditambah persoalan lama seperti perawatan kebun yang belum optimal dan sistem pascapanen yang belum efisien.
Ancaman serupa juga membayangi dua raksasa produsen gula Asia lainnya, India dan Thailand. Kedua negara ini kerap menjadi barometer pasokan gula dunia, dan pengalaman El Nino sebelumnya menunjukkan kekeringan panjang dapat membuat daun dan batang tebu mengering, menekan tingkat rendemen sekaligus volume produksi.
Thailand bahkan telah mengaktifkan rencana tanggap nasional sejak April 2026 untuk menghadapi risiko El Nino kuat. Termasuk mendorong petani beralih ke tanaman siklus pendek yang lebih hemat air demi membatasi risiko gagal panen.
Di sisi domestik, BMKG memperkirakan periode Juli hingga Oktober 2026 akan menjadi masa kritis. Curah hujan di bawah normal melanda Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, hingga Sulawesi. Wilayah-wilayah yang sebagian besar juga menjadi sentra perkebunan tebu rakyat.
Ketika Tiga Ladang Bertemu Satu Ancaman
Yang membuat situasi tahun ini terasa berbeda adalah skalanya. Sejumlah model iklim menunjukkan El Nino 2026 berpotensi mencapai intensitas setara peristiwa 2015-2016. Bahkan sebagian kecil model mengindikasikan kemungkinan mencapai kategori sangat kuat.
BMKG sendiri berhati-hati menggunakan istilah “Godzilla El Nino” yang belakangan populer di pemberitaan, dan menegaskan masih terlalu dini untuk memastikan kekuatan sebenarnya.
Namun ada satu hal yang disepakati banyak ahli. Pemanasan global membuat suhu lautan saat ini secara umum lebih tinggi dibanding satu dekade silam. Sehingga dampak El Nino kali ini berpotensi terasa lebih intens meski indeksnya serupa dengan masa lalu.
Bagi petani kakao, kopi, dan tebu, ancaman ini datang bertubi-tubi di tengah tantangan yang sudah ada sebelumnya. Mlai dari usia tanaman yang menua, keterbatasan pupuk, hingga rantai pascapanen yang belum efisien.
Pemerintah, melalui BMKG dan kementerian terkait, telah mendorong langkah antisipasi seperti perbaikan irigasi, penyediaan sumur dan pompa air tambahan, hingga edukasi petani mengenai skema tanam yang lebih tahan kekeringan.
Namun di lapangan, keputusan akhir sering kali ada di tangan petani itu sendiri. Aakah bertahan merawat kakao yang harganya sedang melambung tapi makin sulit dirawat, menjaga kopi yang harganya fluktuatif mengikuti cuaca di benua lain, atau tebu yang produksinya kian sulit memenuhi target swasembada.
Satu yang pasti: di balik secangkir kopi, sebatang cokelat, dan sesendok gula yang kita nikmati sehari-hari, ada kerja keras dan pertaruhan petani menghadapi ketidakpastian iklim yang kian sulit diprediksi.






