Rolasnews.com – Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani membatalkan kunjungannya ke Amerika Serikat akhir pekan ini setelah Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Perdana Menteri Giorgia Meloni “memohon” untuk foto bareng dengannya pada KTT G7.
Tajani menyebut pernyataan Trump sebagai “hal yang serius dan menghina”. Sementara itu, Meloni langsung menolak klaim tersebut dengan tegas.
Dalam unggahan di aku media sosialnya, perdana menteri perempuan Italia itu menyatakan bahwa pernyataan Trump “sepenuhnya dibuat-buat”.
“Namun ada satu hal yang harus diingatnya: baik saya maupun Italia tidak pernah memohon,” tulis Meloni.
“Pernyataan Donald Trump benar-benar mengada-ada. Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengerti mengapa Presiden Amerika Serikat bersikap seperti ini terhadap sekutunya sendiri. Ini pun bukan kali pertama terjadi,” imbuh PM berusia 49 tahun itu.
🚨 BREAKING: Italian PM Giorgia Meloni completely destroys Donald Trump!
She calls his statements totally invented and is appalled he attacks allies while appeasing enemies of the West.
She delivers a brutal final warning: “Italy and I never beg.” Washington is isolated! pic.twitter.com/iiS5JXZxiv
— Furkan Gözükara (@FurkanGozukara) June 19, 2026
Insiden tersebut bermula dari pertemuan Meloni dan Trump di sela KTT G7 di Évian-les-Bains, Haute-Savoie, Prancis, awal pekan ini. Pernyataan Trump yang menyebut Meloni “memohon agar saya berfoto dengannya” dan “saya kasihan padanya” disiarkan oleh stasiun televisi Italia La7 dengan sulih suara bahasa Italia.
“Dia memohon agar saya berfoto dengannya. Saya merasa kasihan padanya. Dia mungkin senang karena saya mau berbicara dengannya,” kata Trump.
Meloni dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling dekat dengan Trump. Ia menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang menghadiri pelantikan Trump sebagai presiden tahun lalu. Namun, insiden klaim “memohon foto” ini memicu ketegangan baru di antara kedua sekutu tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas pembatalan kunjungan Menlu Tajani dan reaksi keras dari pemerintah Italia.






