Rolasnews.com – Federasi Catur Internasional (FIDE) kembali mendapat sorotan setelah Grandmaster asal China, Zhu Jiner, mengkritik aturan berpakaian dalam Kejuaraan Dunia Blitz Wanita 2024. Zhu Jiner menilai penerapan dress code FIDE itu mengganggu performanya dan memengaruhi hasil pertandingan.
Zhu , 22 tahun, kalah di perempat final dari pecatur asal India, R Vaishali. Ia mengaku konsentrasinya terganggu gara-gara denda US$200 (Rp3,26 juta) karena dianggap melanggar kode pakaian dengan memakai sepatu bot.
Dalam surat terbuka, Zhu Jiner menyatakan bahwa tindakan pejabat FIDE menerapkan aturan dress code tersebut mempengaruhi konsentrasinya.
“Gangguan ini membuat saya kehilangan peluang mencapai semi-final,” tulisnya.
Zhu Jiner, the world’s 10th highest rated female grandmaster, has called out FIDE for its dress code policy: “To suddenly face such interference in the middle of the match, especially when I was so close to reaching the semi-finals, is truly inconceivable” https://t.co/QlaSsBswsC
— Tarjei J. Svensen (@TarjeiJS) January 10, 2025
Zhu menambahkan bahwa selama turnamen, ia mengenakan pakaian yang sama tanpa masalah. Namun, keberatan muncul mendadak justru saat pertandingan penting berlangsung.
“Pertama-tama, saya harus menanggapi denda yang sepenuhnya tidak pantas dan tidak adil yang dikenakan kepada saya selama turnamen. Sebagai pemain, saya selalu percaya bahwa penghormatan tertinggi terhadap aturan dan pemain sangatlah penting. Namun, cara pejabat ini menegakkan aturan tidak adil dan tidak menghormati,” keluh Zhu.
“Saya mengenakan sweater, celana panjang, dan sepatu bot. Tidak ada yang memprotes hingga perempat final. Tiba-tiba muncul keberatan di tengah pertandingan. Sangat tidak masuk akal,” tegasnya.
Aturan Tak Boleh Tebang Pilih
Zhu menyoroti pentingnya menangani masalah seperti ini sebelum pertandingan dimulai.
Menurutnya, mengganggu pemain saat bertanding, terutama dalam format blitz yang waktunya sangat ketat, menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kebutuhan atlet.
Ia juga mengkritik inkonsistensi FIDE. Zhu menyebut kasus Magnus Carlsen yang didiskualifikasi karena memakai jeans, tetapi diizinkan kembali bertanding setelah protesnya dipenuhi.
“Aturan harus berlaku sama untuk semua pemain,” ujarnya.
Zhu menegaskan bahwa para pemain berhak diperlakukan dengan hormat dan selayaknya. Ia meminta FIDE melakukan penyelesaian penuh terkait masalah kode pakaian ini. Menurutnya, kejadian yang dialaminya ini mengaburkan sisi positif turnamen dan mencederai keadilan.
“Gangguan ini tidak perlu terjadi. Pejabat yang tidak memahami aturan seharusnya tidak mempengaruhi jalannya pertandingan dengan keputusan pribadi,” tandas Zhu. (TON)







