Tambah Jumlah Profesor, UM Kukuhkan Enam Guru Besar

Tambah Jumlah Profesor, UM Kukuhkan Enam Guru Besar
(Proses pengukuhan enam Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) di gedung Graha Cakrawala, Kamis (30/6/2022). Credit: Ist)

Rolasnews.com – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menambah jumlah guru besar atau profesor yang dimiliki. Dalam waktu yang bersamaan, enam guru besar dikukuhkan di Gedung Graha Cakrawala, Kamis (30/6/2022).

Mereka adalah Prof. Hadi Nur, Ph.D., Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd., Prof. Dr. Sentot Kusairi, M. Si., Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si., Pro. Dr. Drs. Achmad Supriyanto, M. Pd, M. Si.

Read More
Foto bersama 6 guru besar UM
(Foto bersama enam Guru Besar dengan Rektor dan Ketua Senat UM. Credit: Ist)

Prof. Hadi Nur, Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Material Maju dan Katalisis Heterogen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang, dalam pemaparan pidato ilmiahnya mengusung judul “Kimia Material: Riset dan Pembelajaran”.

Penelitian ini berfokus pada pemerolehan pengetahuan dan penerjemahannya ke dalam bentuk pengembangan belajar dan mengajar. Dimana fokus ini lebih dikenal dengan pembelajaran berbasis penelitian, khususnya dalam pembelajaran kimia material.

Dalam kimia material, menjelaskan hubungan antara struktur, sifat, dan aplikasi material. Pada konsep ini, pembelajaran berbasis penelitian mendorong mahasiswa untuk bertindak sebagai peneliti.

Mahasiswa perlu dididik untuk mandiri, kreatif, mampu berpikir sendiri dan memiliki integritas moral yang tinggi.

“Pembelajaran seperti ini perlu ditekankan dalam pembelajaran berbasis penelitian dalam konteks ilmu kimia material di pendidikan tinggi,” sebutnya.

Menurutnya, peran dosen sebagai peneliti sangat penting dalam proses pembelajaran berbasis penelitian. Konsep ini mendorong mahasiswa untuk bertindak sebagai peneliti. Karena itu dosen perlu menjadi panutan bagi mahasiswa.

“Mungkin kalimat ‘Peneliti yang baik adalah guru yang baik’ adalah tepat untuk menjelaskan konsep ini,” tuturnya.

Idealnya, penelitian dan pembelajaran merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa di institusi pendidikan tinggi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana mereka memperoleh pengetahuan dan bagaimana menerjemahkannya ke dalam pengembangan belajar dan mengajar. Ini berlaku untuk semua bidang ilmu pengetahuan termasuk kimia material.

“Hal Ini dikenal sebagai pembelajaran berbasis penelitian. Sebuah konsep yang perlu diterapkan di Universitas Negeri Malang (UM),” tandasnya.

Berikutnya Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si. Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Material Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini melakukan penelitian berjudul “Nano-Magnetik Cair Berbasis Bahan Alam Indonesia: Fabrikasi dan Pengembangan Aplikasinya”.

Menurut Taufiq, penelitian ini berbasis pada nanosains dan nanoteknologi melalui fabrikasi nanomaterial dan pengembangan aplikasinya. Nanomaterial memiliki karakter unik dan bahkan fungsinya lebih handal jika dibandingkan dengan material sejenis yang berukuran lebih besar.

“Nanomagnetik cair memiliki keunikan dan keunggulan yaitu memiliki sifat layaknya material padatan. Istilahnya, nanomagnetik ini lebih fleksibel,” ungkapnya.

Nanomagnetik cair yang terbuat dari bahan alam Indonesia ini memiliki stabilitas yang tinggi terhadap medan magnet luar meskipun disimpan ratusan tahun lamanya. Selain itu, nanomagnetik cair ini memiliki banyak potensi yang berguna.

Guru Besar kelahiran Paiton, Kabupaten Probolinggo itu melakukan tiga fokus pengembangan nanomagnetik cair berbasis bahan alam Indonesia.

“Yaitu pengembangan di bidang biomedis (antimikroba, antibakteri, antijamur, anti fibrosis, dan sistem penghantaran obat), sensor suhu dan medan magnet, serta material penyerap gelombang radar,” tandasnya.

Selanjutnya, Prof. Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd., Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Pertanian Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menyampaikan pidato ilmiah “Harmonisasi Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Menuju Pembangunan Berkelanjutan”.

Dikatakan Nasikh, hampir semua pelaku bisnis akan berpikir secara rasional dan berorientasi pada profit oriented atau mendapatkan laba yang optimal.

“Saya melihat bahwa konsep ekonomi pada awalnya memang ingin setiap produsen mendapatkan produksi yang optimum. Tujuannya mendapatkan laba yang optimal,” ungkapnya.

Namun, Nasikh menyadari bahwa dalam jangka panjang, apabila pembangunan ekonomi tidak diikutsertakan dengan kepedulian terhadap lingkungan, maka akan mengalami masalah terhadap ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA).

“Untuk itu perlu adanya harmonisasi antara aspek pembangunan ekonomi dan lingkungan,” tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Sentot Kusairi, M.Si., Guru Besar Bidang Penilaian Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menuliskan penelitian yang berjudul “Optimalisasi Asesmen Formatif untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Layanan Belajar Peserta Didik”.

Menurutnya, penelitian ini dilatarbelakangi banyaknya kejadian di mana tidak semua siswa mengerti materi yang diberikan oleh gurunya. Sementara, guru cenderung melanjutkan pembelajaran meski hanya beberapa siswa saja yang mengerti.

“Hal seperti ini banyak terjadi. Ketika siswa tidak sukses di pelajaran pertama, maka cenderung juga tidak sukses di pelajaran selanjutnya,” ujar Sentot.

Padahal, setiap siswa berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan mencapai kompetensi yang ditentukan. Dengan kata lain, pembelajaran harus mengantarkan peserta didik untuk sukses mencapai kompetensi, bukan sekadar mengikuti pelajaran saja.

Penggunaan kata ‘asesmen’ dalam penelitian ini dimaksudkan pada mendampingi atau membantu peserta didik dalam belajar. Bukan hanya menjustifikasi kemampuan dan hasil belajar siswa.

“Asesmen jangan dilakukan di awal dan akhir saja, tetapi harus berkelanjutan. Jika siswa tidak paham, maka diberikan bantuan,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si., seorang Guru Besar Bidang Fisiologi Hewan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang, melakukan sebuah penelitian yang diberi judul “Bawang Putih Tunggal: Obat Tradisional Anti-inflamasi dan Kontribusinya dalam Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat”.

Penelitian tersebut berfokus pada pembuktian khasiat bawang putih tunggal sebagai obat tradisional sebagai anti-inflamasi dan pemelihara kesehatan. Sri Rahayu mengaku bahwa penelitian ini telah ditelitinya selama 10 tahun.

“Bawang putih tunggal asal Bromo, Batu, Jawa Tengah itu memiliki potensi yang sangat besar yang dapat membantu masyarakat mengendalikan penyakit,” ungkap Sri Rahayu.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Drs. H. Achmad Supriyanto, M.Pd., M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang, membuat sebuah penelitian yang berjudul “Bank and Educational Service Quality: Pengaruhnya terhadap Customer Satisfaction dan Loyalty di Era Kompetitif”.

Penelitian mengenai “Bank and Educational Service Quality: Pengaruhnya terhadap Customer Satisfaction dan Loyalty di Era Kompetitif” menguji 1.190 responden yang berasal dari wilayah Kota Malang dan Surabaya.

“Penelitiannya berfokus pada ketergantungan lembaga pada customer, dalam hal ini mengacu pada persaingan kualitas dalam memberikan pelayanan,” sebutnya.

Dalam penelitian ini ketergantungan lembaga pada customer, Supriyanto mengatakan bahwa setiap pelayanan diharapkan memenuhi kebutuhan individu ataupun masyarakat luas.

“Tanpa adanya customer, sebuah lembaga tidak akan bisa hidup. Maka, di era sekarang, fokuslah pada pengguna jasa atau customer,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.