Produksi Kelapa Sawit Indonesia Terancam Turun Akibat Karhutla di Kalimantan

Produksi Kelapa Sawit Indonesia Terancam Turun Akibat Karhutla di Kalimantan
Karhutla yang terus terjadi mengancam produksi kelapa sawit nasional (GAPKI)

Rolasnews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan semakin memukul industri kelapa sawit nasional. Sebagai salah satu sentra produksi utama, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menyumbang porsi signifikan terhadap total output Crude Palm Oil (CPO) Indonesia. Kini, api, kabut asap, dan kekeringan akibat El Nino mulai menggerus produktivitas kebun.

Menurut laporan Reuters yang dirilis pertengahan September 2026, seorang analis memperkirakan produksi kelapa sawit di wilayah produksi utama Indonesia bisa turun hingga 15 persen pada kuartal IV seiring kebakaran yang masih berlangsung. Prediksi ini muncul di tengah meningkatnya titik panas dan luas lahan terbakar di Kalimantan, khususnya di konsesi perkebunan dan lahan masyarakat.

Dampak langsung sudah terlihat di lapangan. Di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, api merambat ke kebun sawit milik warga. Tanaman yang baru seminggu ditanam ikut ludes, sementara kebun produktif terancam.

Warga menghitung kerugian tidak hanya dari nilai lahan, tetapi juga hilangnya pendapatan rutin dari tandan buah segar (TBS). Asap tebal juga mengganggu proses fotosintesis dan penyerbukan, yang secara historis dapat menurunkan produktivitas hingga puluhan persen dalam kasus kekeringan dan kabut asap parah.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sebelumnya telah merevisi estimasi dampak cuaca ekstrem.

Dari proyeksi awal penurunan mendekati 5 juta ton, angka tersebut kemudian diturunkan menjadi maksimal sekitar 3 juta ton. Namun, dampak penuh El Nino biasanya baru terasa 6–12 bulan kemudian, sehingga tekanan terhadap produksi 2027 masih menjadi perhatian.

Kekeringan membuat perusahaan dan petani menunda pemupukan karena pupuk mudah menguap, sementara harga pupuk yang melonjak menambah beban.

Baca Juga:

Cegah Karhutla Berulang, Gapki Tekankan Zero Burning hingga Kolaborasi Masyarakat

Sentra Produksi Sawit

Provinsi seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat secara konsisten berada di jajaran produsen terbesar nasional, bersama Riau. Ketika kebakaran terjadi di lahan gambut dan konsesi, dampaknya tidak hanya lokal. Tetapi berpotensi mempengaruhi pasokan nasional, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan domestik untuk program biodiesel.

Pemerintah dan pelaku industri terus mengerahkan upaya pemadaman, termasuk bantuan helikopter dan peralatan dari perusahaan sawit. Akan tetapi musim kemarau yang diperkirakan berlanjut hingga Oktober–November 2026 membuat risiko tetap tinggi.

Bagi petani kecil dan perusahaan, tantangan ganda muncul. Menjaga kebun dari api sambil mempertahankan produktivitas di tengah cuaca ekstrem.

Industri kelapa sawit Indonesia, yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor dan penyerapan tenaga kerja, kini menghadapi ujian serius. Bagaimana penanganan karhutla dan mitigasi dampak cuaca ke depan akan menentukan apakah penurunan produksi hanya bersifat sementara atau meninggalkan jejak lebih panjang pada pasokan global.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *