Rolasnews.com – Industri otomotif Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan lesu. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merevisi target penjualan wholesales (distribusi pabrik ke dealer) menjadi sekitar 780.000 unit. Jauh di bawah proyeksi awal 850.000–900.000 unit dan realisasi 2024 yang mencapai 865.723 unit.
Hingga November 2025, penjualan kumulatif tercatat sekitar 710.000 unit, turun sekitar 10% year-on-year (YoY).
Penurunan ini konsisten sepanjang tahun, dengan angka bulanan rata-rata di kisaran 60.000–74.000 unit. Beberapa bulan mencatat penurunan signifikan, seperti Juni (turun 22,6% YoY) dan Agustus (turun 19% YoY).
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyatakan, revisi target dilakukan berdasarkan evaluasi data hingga akhir tahun.
“Pasar belum membaik, dipengaruhi kondisi ekonomi global dan domestik,” ujarnya.
Penyebab Utama Penurunan
Pelaku industri dan pengamat menyebut beberapa faktor pendorong lesunya pasar:
- Melemahnya daya beli masyarakat akibat pertumbuhan ekonomi di bawah 5% pada kuartal awal.
- Ketidakpastian geopolitik global dan perang dagang AS-China yang berdampak domino.
- Kenaikan pungutan pajak serta suku bunga kredit yang membebani pembiayaan (sekitar 60% penjualan melalui leasing).
- Penundaan pembelian pasca-pemilu sebelumnya dan normalisasi harga komoditas.
Meski pameran seperti GIIAS dan GJAW mencatatkan penjualan lebih dari 60.000 unit sepanjang tahun (naik 14% dari 2024), stimulus tersebut belum cukup mengangkat pasar secara keseluruhan.
Penjualan Kendaraan Listrik Naik Signifikan
Berkebalikan dengan pasar konvensional, penjualan mobil listrik murni (BEV/EV) justru melonjak drastis. Pangsa pasar EV mencapai sekitar 12–18% di akhir tahun, dari hanya 5% pada 2024.
Lonjakan tertinggi terjadi Oktober dengan 13.935 unit (naik 245% dari September).
Merek China mendominasi dengan BYD memimpin puluhan ribu unit kumulatif (termasuk model Atto 1 yang melonjak pada akhir tahun), diikuti Wuling, Chery, dan Denza.
Faktor pendorong meliputi insentif pajak, harga kompetitif, dan ekspansi infrastruktur charging.
Meski demikian, Toyota tetap kokoh di posisi pertama dengan pangsa pasar sekitar 30–33%, diikuti Daihatsu. Namun, BYD sempat masuk top 3 bulanan pada Oktober–November berkat boom EV.
Untuk 2026, diestimasi akan membaik dengan catatan ekonomi pulih dan insentif EV berlanjut.
Gaikindo mengharapkan stabilitas rupiah dan penurunan suku bunga untuk mendorong pemulihan. (TON)







