Rutin Bermeditasi Tingkatkan Aktivitas Gen yang Mengatur Imunitas Tubuh

Rutin Bermeditasi Tingkatkan Aktivitas Gen yang Mengatur Imunitas Tubuh
(Ilustrasi meditasi. Credit: Unsplash)

Rolasnews.com – Rutin bermeditasi dapat memberikan dorongan yang signifikan pada sistem kekebalan tubuh. Hal ini didasarkan pada analisis aktivitas genetik 100 relawan yang diambil sampel darahnya sebelum dan sesudah melakukan meditasi.  

Analisis yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences itu menunjukkan meditasi meningkatkan aktivitas ratusan gen yang terlibat langsung dalam mengatur respon imunitas tubuh.

Read More

Namun para peneliti mengingatkan bahwa penelitian mereka melibatkan sesi meditasi maraton 10 jam setiap harinya yang dilakukan selama delapan hari berturut-turut dalam keheningan total. Metode yang tentunya sangat sulit dilakukan kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, Vijayendran Chandran peneliti studi, mengatakan temuan tersebut menegaskan bahwa meditasi dapat memiliki peran penting dalam mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Menurut asisten profesor pediatri dan ilmu saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Florida itu, rutin bermeditasi memang memiliki efek positif pada meningkatnya kekebalan tubuh.

“Tapi ingat, itu hanya delapan hari. Meditasi jangka panjang untuk durasi pendek setiap hari juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” ujarnya.

Chandran menambahkan, ia pernah mencobanya pada dirinya sendiri. Sebelum merilis hasil studi tersebut, ia menyelesaikan program 48 hari bermeditasi rutin selama sekitar 20 menit setiap harinya di rumah.

Eksperimen itu membuat Chandran merasa lebih jernih dan lebih fokus. Ia kemudian memutuskan mendalaminya lebih lanjut untuk mengekplorasi mekanisme molekuler yang membuat meditasi bermanfaat bagi tubuh.

Penelitian yang diinisiasi Chandran melibatkan 106 pria dan wanita. Para relawan rata-rata berusia 40 tahun. Mereka semua mengikuti retret meditasi yang dilangsungkan di Isha Insititute of Inner Scinces di McMinnville, Tennessee, AS.

Sampel darah diambil dari semua partisipan beberapa kali, lima sampai delapan minggu sebelum retret dimulai, dan tiga bulan sesudahnya.

Selama delapan hari retret para partisipan hanya disuguhi masakan vegan dan mengikuti semua jadwal regular kegiatan yang sudah disusun. Sesi meditasi sendiri berlangsung 10 jam sehari dan dilakukan dalam keheningan total.

Setelah tiga bulan retret, Chandran dan para koleganya  mendapati adanya peningkatan aktivitas yang melibatkan 220 gen yang terkait kekebalan tubuh, termasuk 68 gen “interferon signaling” (yang berperan sentral dalam memulai respon imun).

Para peneliti menunjukkan bahwa signaling semacam ini dapat menjadi kunci untuk pertahanan menghadapi berbagai masalah kesehatan seperti kanker, multiple sclerosis (gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang), bahkan COVID-19. Hal ini dikarenakan protein interferon secara efektif memicu sistem kekebalan tubuh.

Bermeditasi rutin
(Rutin bermeditasi 15 menit sehari dalam keheningan total dapat meningkatkan imun tubuh. Credit: polet-dushi.ru)

Baca Juga :

Orang Dengan Gangguan Kesehatan Mental Beresiko Lebih Besar Alami Kematian Karena COVID-19

Chandran mencatat, aktivitas interferon yang tidak mencukupi menjadi masalah besar bagi pasien COVID-19 yang sakit parah.

Chandran juga menjelaskan hampir semua (97%) “gen respon” interferon didapati aktif setelah retret meditasi. Sementara data aktivitas gen dari pasien COVID-19 angka itu menjadi 76% pada yang menderita sakit ringan dan tinggal 31% pada pasien yang sakit parah.

Dampak nyata pada aktivitas molekuler yang terlihat di antara peserta retret ternyata setelah memperhitungkan pola makan mereka. Namun para peneliti mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak secara definitif membuktikan meditasi menyebabkan terjadinya perubahan gen.

Meski demikian, Chandran mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa meditasi suatu saat bisa saja dimasukkan ke dalam “terapi perilaku yang dikembangkan untuk menjaga kesehatan otak dan memodifikasi penyakit neurologis yang saat ini masih tidak dapat diubah”.

Peneltian yang dilakukan Chandran dkk ini diapresiasi seorang pakar kesehatan mental. Menurutnya, meski hasil temuan itu tidak terlalu mengejutkan, tetapi tetap saja merupakan kabar yang menggembirakan.

“Studi ini memang tidak serta merta mengklaim bahwa orang yang bermeditasi di rumah akan mengalami ‘peningkatan kekebalan’ yang sama seperti mereka yang terlibat dalam penelitian tersebut. Namun mengingat banyaknya literatur mengenai manfaat praktik meditasi pada kesehatan fisik dan psikis, orang yang bermeditasi di rumah bisa saja mendapatkan manfaatnya,” kata Alex Presciutti, seorang kandidat Ph.D psikologis klinis di University of Colorado Denver. (TON)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *