Prof Nurul Isnaini : Strategi Teknologi Reproduksi Kelahiran Kembar Mampu Tingkatkan Populasi dan Produktivitas Kerbau

  • Whatsapp
Prof Nurul Isnaini : Strategi Teknologi Reproduksi Kelahiran Kembar Mampu Tingkatkan Populasi dan Produktivitas Kerbau
Prof. Dr. Ir. Nurul Isnaini, MP, profesor di bidang Ilmu Manajemen Reproduksi Ternak telah melakukan penelitian “Strategi Teknologi Reproduksi untuk Menghasilkan Kelahiran Kembar pada Kerbau”.
Rolasnews.com – Hingga saat ini produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri hanya dapat berkontribusi sebesar 50,6% terhadap pemenuhan ketersediaan nasional, sedangkan 49,4% kekurangannya harus dipenuhi melalui impor. Melihat kondisi tersebut, Prof. Dr. Ir. Nurul Isnaini, MP sebagai profesor dalam bidang Ilmu Manajemen Reproduksi Ternak telah melakukan penelitian “Strategi Teknologi Reproduksi untuk Menghasilkan Kelahiran Kembar pada Kerbau”.

Disampaikan Prof. Nurul, pengembangan ternak kerbau sebenarnya memiliki prospek yang cukup baik untuk mendukung upaya pencapaian swasembada daging, sebab kerbau memiliki potensi produktivitas yang tidak kalah bersaing dibandingkan dengan sapi. Terlebih, kerbau dikenal memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mencerna pakan dengan kualitas rendah. Selain itu, rumen kerbau juga dilaporkan memiliki populasi bakteri Ruminococcus albus dan Fibrobacter succinogenes yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi.

“Kedua bakteri tersebut bersifat selulolitik, sehingga kerbau memiliki potensi untuk mencerna kandungan serat pada pakan secara lebih optimal. Selain sebagai ternak penghasil daging, kerbau juga dapat menghasilkan susu,” terangnya dalam sesi konferensi pers via Zoom, Jumat (19/3).

Read More

Sayangnya, peran ternak kerbau yang sangat penting bagi masyarakat tersebut menurut Prof. Nurul belum didukung dengan pola pemeliharaan yang baik, karena masih dilakukan secara tradisional sehingga menyebabkan tidak optimalnya performa produksi dan reproduksi pada kerbau.

Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan), populasi kerbau di Indonesia cenderung mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir.

“Populasi kerbau di Indonesia pada tahun 2011 adalah 1,31 juta ekor, sedangkan tahun 2020 yaitu 1,18 ekor, maka terjadi penurunan sebesar 9,92%,” sebutnya.

Karenanya menurut Prof Nurul, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas kerbau adalah dengan menghasilkan kelahiran kembar. Pada kondisi normal sebenarnya kerbau hanya bisa menghasilkan satu ekor anak pada setiap periode kebuntingan. Akan tetapi, kelahiran kembar memungkinkan untuk terjadi secara alami namun dengan frekuensi yang sangat rendah (hanya 0,14%).

“Oleh sebab itu, melalui strategi kelahiran kembar diharapkan akan dapat mengakselerasi pertumbuhan populasi kerbau,” tuturnya.

Disebutkan, strategi kelahiran kembar pada kerbau dapat dilakukan dengan tiga metode. Pertama dengan tahapan antara lain induksi superovulasi dan inseminasi buatan (IS-IB). Metode kedua dengan tahapan induksi superovulasi, inseminasi buatan, dan transfer embrio (IS-IB-TE). Sedangkan metode ketiga dengan tahapan maturasi oosit in vitro, fertilisasi in vitro, dan transfer embrio (MOIV-FIV-TE).

Hanya saja terdapat beberapa resiko yang perlu diperhatikan pada penerapan strategi ini yaitu tingginya resiko distokia, bobot lahir dan pertambahan bobot badan anak yang rendah, serta terjadinya sindrom freemartin pada anak betina.

Ternak kerbau
(Dengan strategi teknologi reproduksi kelahiran kembar, populasi dan produktivitas kerbau dapat ditingkatkan. Photo Courtesy : Ist)

Sama dengan Manusia, Kemandulan Gajah Asia Tidak Terkait Obesitas

Untuk mengatasi resiko tersebut diantaranya adalah dengan menempatkan kerbau pada kandang isolasi dengan pengawasan rutin pada saat menjelang beranak, memberikan pakan dengan densitas nutrien tinggi selama bunting dan laktasi, serta menggunakan spermatozoa hasil sexing untuk inseminasi buatan atau fertilisasi in vitro.

“Ke depannya kami berharap adanya pengembangan teknologi deteksi birahi dan kebuntingan dini. Serta pengembangan teknologi kloning pada jenis ternak kerbau yang memiliki nilai sosial budaya dan ekonomi tinggi seperti Tedong Saleko di Toraja juga perlu untuk dieksplorasi pada masa-masa mendatang,” pungkasnya.

Prof. Dr. Nurul Isnaini, MP merupakan Profesor aktif ke-17 dari Fakultas Peternakan dan Profesor aktif ke-193 di UB, serta menjadi Profesor ke-276 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB. (ANC)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *