UB Kukuhkan Dua Profesor Baru Dari FP Dan FISIP

UB Kukuhkan Dua Profesor Baru Dari FP Dan FISIP
(Pengukuhan dua profesor baru di Universitas Brawijaya, Sabtu 3 Maret 2022. Credit: Ist)

Rolasnews.com – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua profesor baru, yakni Prof. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D dari Fakultas Pertanian (FP) dan Prof. Anwar Sanusi, Ph.D dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pengukuhan digelar pada Rapat Terbuka Senat Akademik UB, Sabtu (19/03/2022), di gedung Samantha Krida.

Prof. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Konservasi Tanah dan Air. Ia merupakan profesor aktif ke-29 dari FP, dan ke-165 di UB, serta menjadi profesor ke-291 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Read More

Dalam paparan pidato pengukuhannya, Prof Didik mengambil judul ‘Inovasi BioGT-BOT+ untuk Pertanian Konservasi dalam Budidaya Tanaman Semusim Di Lahan Kering’ .

Menurutnya, degradasi tanah sangat terkait dengan penurunan kualitas tanah dalam mendukung produksi tanaman dan kualitas sumber daya alam, serta penurunan produktivitas ekosistem. Penurunan fungsi tanah dapat mengakibatkan hilangnya unsur hara tanah, penurunan bahan organik tanah, pemadatan, erosi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

“Solusi teknologi untuk pengendalian erosi tanah di awal musim tanam adalah pemberian mulsa di permukaan tanah. Sayangnya, penggunaan mulsa kurang disukai oleh petani karena kurang praktis dan mudah berserakan di lahan,” ujarnya.

Karena itu ia bersama tim mengembangkan penggunaan bahan baku organik yang dimasukkan di antara dua lapisan luar bahan geotekstil. Upaya ini disebut sebagai inovasi BioGT-BOT+, untuk mendukung pertanian konservasi.

Prof Didik Suprayogo
(Prof. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D saat dikukuhkan menjadi profesor di UB. Credit: Ist)

Dijelaskan Prof Didik, BioGT-BOT+ merupakan suatu teknologi rakitan dua lapis bahan rajutan dari bahan organik dengan kualitas rendah yang sering dikenal dengan Biogeotekstil (BioGT-). Ini berfungsi sebagai mulsa untuk pengendalian erosi tanah, yang didalamnya dapat diisi dengan bahan organik, seresah, atau residu pertanian untuk memberikan tambahan (+) bahan organik tanah (BOT) agar terjadi penyehatan kesuburan tanah sehingga diperoleh produksi pertanian yang berkelanjutan di lahan kering.

“Keunggulan BioGT-BOT+ adalah produk ini dirancang sederhana, ramah lingkungan, efektif, dan aplikatif. Serta mampu menjawab trade-off antara upaya peningkatan produksi tanaman dan perlindungan sumberdaya tanah untuk mencegah degradasi tanah,” sebutnya.

“Selain dirancang untuk mengendalikan erosi tanah, BioGT-BOT+ juga dapat menyehatkan tanah melalui penambahan bahan organik, mengendalikan fluktuasi suhu tanah, menjaga kelembaban tanah yang berdampak peningkatan produksi tanaman,” tandasnya.

Baca Juga :

Profesor Nurul Beberkan Strategi Pengelolaan Produksi Tanaman Pangan untuk Peningkatan Produktivitas Lahan Salin

Sementara itu Prof. Anwar Sanusi, Ph.D dikukuhkan sebagai profesor tidak tetap dalam bidang Ilmu Kebijakan Publik (Pengembangan Perdesaan). Ia merupakan profesor ke-2 dari FISIP, dan profesor aktif ke-166 di UB, serta merupakan profesor ke-292 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Dalam paparannya, Prof Anwar mengangkat judul ‘Multi-level Collaborative Governance: Sebuah Pendekatan Baru dalam Mewujudkan Desa Mandiri di Era Digital’

Menurutnya, perkembangan era digital menyebabkan ekonomi dunia sedang mengalami transformasi besar ke arah knowledge economy. Dinamika perkembangan desa juga tidak lepas dari arus besar ini.

Desa tidak hanya mengalami digitisation namun juga digitalisation yang berpengaruh terhadap konteks sosial dan institutional yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di pedesaan.

Namun demikian, hingga saat ini masih sangat sedikit studi kebijakan publik yang menyentuh tentang kebijakan perdesaan.

“Permasalahan kedua, kita mengalami stagnasi pendekatan pembangunan perdesaan,” ujarnya.

Prof Anwar Sanusi
(Prof. Anwar Sanusi, Ph.D. Credit: Ist)

Prof Anwar menambahkan, permasalahan pertama dan kedua tersebut bermuara pada permasalahan ketiga, yaitu minimnya fokus tata kelola pembangunan perdesaan pada tataran level meso-institusional.

Sebab itu diperlukan terobosan pendekatan kebijakan publik terkait tata kelola pemerintahan Perdesaan Indonesia yang tidak lagi semata-mata terfokus pada aspek-aspek makro-struktural dan makro-kultural.

“Karena itu kami menawarkan pendekatan baru yang disebut dengan Multi-level Collaborative Governance (MLCG),”sebutnya.

Pendekatan MLCG merupakan pendekatan yang dinilai cukup relevan dalam upaya pengembangan desa dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan multi-level pemerintah dalam kerjasama yang sistematis dan terstruktur dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, hingga sektor swasta.

Baca Juga :

KEK Singhasari Gandeng ITN Malang Berkolaborasi

Selain itu, MLCG juga mendorong pengembangan desa berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

“Dengan demikian, pendekatan MLCG mempercepat pencapaian desa mandiri melalui 3 (tiga) keluaran utamanya, yaitu manajemen pengetahuan, kepemimpinan transformatif, dan rekognisi kearifan lokal,” ungkapnya.

Disebutkan Prof Anwar, keunggulan dari pendekatan MLCG adalah adanya keterlibatan berbagai multi-level sektor, pengembangan desa yang berbasis potensi lokal desa dan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal, serta memanfaatkan teknologi dalam upaya pengembangan desa. Dalam hal ini, seluruh pemangku kepentingan merupakan objek sekaligus subjek pembangunan perdesaan.

“Hal ini akan mendorong sense of belonging yang kuat akan tanggung jawab pembangunan perdesaan. Pembangunan perdesaan akan lebih bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis dan mampu meminimalisasi risiko yang muncul dari proses pembangunan tersebut,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *