Rolasnews.com – Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta maaf secara resmi pada 8 Agustus 2026 terkait skandal penyediaan hiburan seksual (sexual entertainment/services) kepada wasit dan pejabat pertandingan asing pada 2011–2012. Pernyataan maaf ini muncul di tengah tekanan publik setelah performa buruk Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026.
Laporan media lokal mengungkap temuan audit Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata tahun 2016. Audit tersebut menemukan bahwa KFA menggunakan kartu kredit korporat untuk membiayai hiburan tidak pantas di tempat pijat (massage parlour) dan tempat dewasa lainnya di Seoul serta kota-kota lain.
Biaya tersebut mencakup layanan seksual. Insiden terjadi sekitar tujuh (atau hingga delapan) kali antara Maret 2011 dan Maret 2012. Melibatkan sekitar 10 pejabat asing, termasuk saat kualifikasi Piala Dunia 2014 dan Olimpiade London 2012. Tak hanya itu, skandal juga terjadi di beberapa laga persahabatan.
KFA mengeluarkan pernyataan resmi yang ditujukan kepada penggemar dan pihak-pihak terkait sepak bola.
Permintaan maaf tersebut terutama terkait hasil buruk dan rangkaian kontroversi pasca Piala Dunia 2026. KFA juga mengaku kehilangan fokus pada tugas utamanya memberikan kegembiraan lewat kerja keras, semangat, dan sportivitas pemain.
Permintaan maaf juga meliputi dengar pendapat Majelis Nasional, penggeledahan polisi yang belum pernah terjadi, serta laporan media tentang kejadian lebih dari satu dekade lalu yang bahkan banyak staf internal tidak ketahui.
KFA berjanji melakukan reformasi menyeluruh, meningkatkan transparansi dan integritas etika, serta berharap prestasi pemain Timnas tidak dirusak oleh skandal ini.
Penyelidikan Polisi
Skandal ini muncul di tengah tekanan besar terhadap KFA. Timnas Korea terdepak lebih awal dari Piala Dunia 2026, yang memicu dengar pendapat parlemen (akhir Juli 2026). Rapat dengar pendapat ketika itu mempertanyakan kinerja mantan Presiden KFA Chung Mong-gyu (yang sudah mengundurkan diri) dan mantan pelatih Hong Myung-bo (yang juga mundur).
Polisi juga menggeledah kantor KFA terkait dugaan ketidakberesan dalam proses penunjukan Hong.
Praktik tersebut dilaporkan sebagai bagian dari “keramahtamahan” yang tidak pantas di masa lalu. Prostitusi dilarang di Korea Selatan, meski tempat pijat dengan layanan seksual cukup umum di negeri KPop tersebut.






