Rolasnews.com – Warga Gaza menjalani Ramadan tahun ini tak banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski gencatan senjata sejak Oktober 2025 telah menghentikan bombardir besar-besaran oleh Israel, bayang-bayang perang masih menyelimuti kehidupan sehari-hari.
Lebih dari dua tahun konflik telah meninggalkan luka mendalam. Ribuan korban jiwa, ratusan ribu orang mengungsi, dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai. Namun, di tengah kelaparan kronis dan kekurangan infrastruktur, warga Palestina tetap menjalankan ibadah puasa dengan ketabahan yang menginspirasi, kendati suasana meriah yang biasa menyertai bulan suci ini telah memudar.
Ramadan yang Berat
Warga Gaza memulai puasa sejak 18 Februari. Bagi banyak keluarga, sahur dan iftar bukan lagi pesta kuliner tradisional seperti maqluba (hidangan tradisional) atau molokhia, melainkan makanan sederhana dari bantuan kemanusiaan yang terdiri dari roti, makanan kaleng, atau bahkan sup dari bahan seadanya.
“Kegembiraan telah berubah menjadi kesulitan, dan tradisi Ramadan yang sudah lama ada telah bergeser di bawah beban perang,” kata Um Bilal Muheisen, seorang warga berusia 50 tahun yang tinggal di tenda di Gaza City, seperti dilaporkan Qatar News Agency (QNA).
Ia menambahkan, tradisi berbuka puasa dengan molokhia dan ayam isi nyaris tak lagi dapat dilakukan karena pengungsian dan kemiskinan.
Kondisi Gaza saat ini memang membuat puasa tak ubahnya ujian ketahanan fisik dan mental. Perang telah menyebabkan ribuan korban jiwa, kehancuran rumah, dan krisis kemanusiaan, dengan ratusan ribu orang tercerabut dari tempat tinggalnya.
Kekurangan air memaksa warga berjalan berjam-jam untuk mencari sumber air, sementara memasak untuk iftar atau berbuka, sering dilakukan dengan api unggun dari daun atau kayu, menghasilkan asap yang menyiksa dan berbahaya bagi kesehatan.
Banyak yang kehilangan anggota keluarganya. Sehingga meja iftar sering kosong dan penuh duka. Meski ada gencatan senjata, ketakutan akan serangan baru tetap ada, membuat Ramadan kini lebih tentang bertahan hidup daripada perayaan dan ibadah.
Sholat Tarawih juga kerap digelar di reruntuhan masjid atau tenda darurat, sementara tradisi musaharati—pembuat bangun sahur dengan genderang—masih diupayakan meski terganggu oleh ketakutan akan serangan baru.

Ramadan Tetap Spesial
Namun di tengah duka, ada suka kecil yang muncul dari solidaritas. Maisoon, seorang ibu di Gaza, berusaha menciptakan kegembiraan untuk anak-anaknya dengan dekorasi sederhana khas Ramadan meski sumber daya terbatas.
“Kemampuan saya terbatas, tapi yang penting adalah anak-anak merasa senang,” katanya kepada Al Jazeera, sambil menekankan rasa syukur atas keselamatan keluarga.
“Setiap hari mereka aman adalah hari yang patut disyukuri dan penuh kegembiraan,” imbuhnya.
Sementara itu, Maha Fathi, 37 tahun, yang mengungsi dari Gaza City ke tenda di barat kota, melihat Ramadan sebagai momen spesial meski penuh penderitaan.
“Meskipun ada semua kehancuran dan penderitaan di Gaza, Ramadan tetap spesial,” ujarnya.
Ia bercerita tentang kesyahduan berbagi makanan dengan tetangga dan mendekorasi tenda untuk menjaga semangat.
“Semua orang merindukan suasana Ramadan. Melihat aktivitas di pasar membuat kami penuh harapan untuk kembali ke kehidupan sebelumnya,” ia menambahkan.
Namun, atmosfir kesedihan masih mendominasi.
Waleed al Zamli, seorang ayah yang kehilangan pekerjaan setelah tokonya hancur, menggambarkan hilangnya kegembiraan.
“Tahun ini, tidak ada kebahagiaan,” katanya kepada Associated Press di Khan Younis.
“Anak-anak ingin merasa senang seperti anak-anak orang lain, berpakaian dan makan sesuatu yang bersih dan spesial,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Fedaa Ayyad dari Gaza City.
“Tidak ada kegembiraan setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang tercinta. Bahkan jika kami mencoba menghadapi situasi ini, kami tidak bisa benar-benar merasakannya di hati kami,” ungkapnya pilu.

Adaptasi dengan Rasa Lapar
Haitham Elmasri, seorang lulusan administrasi bisnis dari Gaza, dalam akun media sosialnya mengatakan banyak orang telah berdaptasi dengan kelaparan selama konflik.
“Kami telah menanggung kelaparan terus-menerus selama lebih dari dua tahun… Dan karena itu, Ramadan tahun ini, insya Allah, akan lebih mudah daripada yang sebelumnya, karena kami telah belajar bagaimana bersabar,” tulisnya di X.
“Meskipun keluarga saya dan saya tidak bisa makan setelah berpuasa hari ini… kami merasa senang dan puas karena Allah memberi kami kesuksesan dalam berpuasa,” lanjutnya.
We endured a continuous famine for more than two years; there were days that passed without us finding anything to eat, and we would go to bed night after night with no food at all.
Over time, our bodies grew accustomed to the harshness of hunger, until the feeling of it became…
— Haitham in Gaza 🇵🇸🍉 (@HaithamElmasri1) February 18, 2026
Sementara Mohammed, seorang insinyur perangkat lunak dari Gaza, membandingkan Ramadan sebelum dan sesudah perang.
“Tahun ini, semuanya terasa berbeda. Begitu banyak yang hilang… Kami berpuasa sambil membawa ketakutan, ketidakpastian, dan kelelahan. Saya masih mencoba berharap bahwa suatu hari Ramadan akan terasa lembut lagi,” katanya.
Inisiatif bantuan internasional, termasuk dapur amal dan donasi, membantu meringankan beban, meski distribusi sering terganggu. Bagi warga Gaza, Ramadan 2026 bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga menjaga harapan di tengah kepedihan.
Seperti kata Amani al-Naouq dari Deir al-Balah.
“Bagi orang-orang di Gaza, ini adalah Ramadan yang memilukan karena banyak yang masih merindukan orang-orang tercinta mereka,” ujarnya.
Namun, semangat warga Gaza Palestina menyambut Ramadan 2026 tetap membara. Mengajarkan dunia pelajaran tentang iman dan solidaritas. (TON)







