Sebuah Kota Kecil di Utara Jepang Nyaris Saja Kehilangan “Rumah Terakhir” Bagi Para Lansianya
Rolasnews.com – Pada awal 2025, panti jompo satu-satunya di Higashikawa, Hokkaido, berada di ambang penutupan karena kekurangan staf. Namun, sekelompok perawat muda dari Indonesia datang sebagai penyelamat. Mereka mengisi kekosongan itu dan menjaga agar pintu panti tetap terbuka.
Kisah ini bukan hanya tentang penyelamatan fasilitas kesehatan. Tetapi juga tentang bagaimana Jepang, yang populasinya relatif homogen dan masih memegah teguh nilai-nilai tradisional, mulai merangkul tenaga kerja asing untuk menghadapi gelombang penuaan penduduk.
Krisis Demografi Akut
Jepang menghadapi salah satu krisis demografi terburuk di dunia. Pada 2025, seluruh generasi baby boomer telah berusia di atas 75 tahun, menyebabkan lonjakan kebutuhan perawatan lansia.
Di Higashikawa, kota dengan populasi sekitar 8.700 jiwa, masalah ini semakin akut. Penduduk setempat yang muda enggan bekerja di sektor perawatan karena pekerjaan yang berat, stres tinggi, dan upah rendah.
Proyeksi menunjukkan Jepang membutuhkan 2,4 juta perawat pada 2026, tapi hanya ada 2,12 juta saat ini. Tanpa intervensi, panti jompo di Higashikawa—yang disebut sebagai “tokuyō hōmu” atau panti jompo khusus—akan tutup. Meninggalkan para lansia tanpa tempat berlindung dan orang-orang yang merawat mereka.
Di sinilah perawat Indonesia masuk.
Melalui program kerjasama antara pemerintah lokal Higashikawa dan Sekolah Vokasi Budaya dan Kesejahteraan Internasional, puluhan pemuda dari Garut, Jawa Barat, direkrut. Mereka dilatih menjadi perawat bersertifikat dan langsung bekerja di panti tersebut.
Instruktur seperti Minoru Tomizuka, 53 tahun, bahkan pergi ke Indonesia untuk mempromosikan profesi ini sebagai “pahlawan super” bagi lansia Jepang.
“Para lansia Jepang membutuhkan ‘superhero’ untuk membantu mereka. Sebagai imbalannya, kesejahteraan para pengasuh ini harus terjamin,” kata Tomizuka saat merekrut di Garut, seperti dilaporkan media lokal Jepang.

Gaji di Jepang mencapai 160.000 yen (sekitar Rp16 juta) per bulan—empat kali lipat dari upah di Garut—menjadi daya tarik utama. Salah satu siswa Indonesia menyatakan antusiasmenya:
“Sangat luar biasa bisa bekerja di Jepang,” ujar salah seorang siswa Indonesia antusias.
Peran Krusial dan Tantangan yang Dihadapi
Para perawat ini tidak hanya mengisi kekosongan staf. Mereka membawa energi baru ke fasilitas tersebut.
Lebih dari 30 pemerintah lokal di Hokkaido menawarkan beasiswa hingga 3,7 juta yen per tahun bagi perawat dari Indonesia dan Thailand, dengan syarat bekerja minimal lima tahun setelah lulus.
Inisiatif ini telah menyelamatkan panti jompo Higashikawa dari penutupan sekaligus mendukung ekonomi lokal melalui integrasi pekerja asing.
Acara sambutan seperti upacara masuk sekolah, di mana petani dan pemilik toko setempat bertepuk tangan, menunjukkan betapa mereka dihargai.
Namun, bekerja di sektor ini tidaklah mudah.
Industri perawatan Jepang penuh tantangan. Upah lebih rendah daripada di Korea Selatan, lembur tak dibayar, dan turnover tinggi di kalangan pekerja asing.
Saat ini, ada sekitar 90.000 pekerja asing di sektor ini, termasuk dari Indonesia. Tetapi dalam perjalanan, banyak yang memutuskan tak melanjutkan karena eksploitasi.
Program visa Specified Skilled Workers membatasi masa tinggal hingga lima tahun tanpa jalur residensi permanen, sementara pelemahan mata uang yen membuat Jepang kurang kompetitif di mata pekerja asing.
Respons Masyarakat Jepang Terbelah
Tanggapan masyarakat Jepang terhadap perawat Indonesia ini mayoritas positif, khususnya di tingkat lokal.
Di Higashikawa, mereka dipandang sebagai “tak tergantikan” dan mendapat sambutan hangat dari komunitas.
“Mereka seperti cucu yang ceria bagi para lansia. Mereka ‘menkoi’ (lucu dan menggemaskan dalam dialek Hokkaido),” ujar seorang staf Jepang di Hokkaido yang bekerja dengan perawat asing
Secara nasional, ada pengakuan bahwa Jepang tak bisa lagi bergantung pada tenaga kerja domestik semata. Karena itu, tak sedikit netizen mensyukuri keberadaan perawat Indonesia dan memuji dedikasi mereka. Sehingga menyerukan pemberian residensi permanen.

Meski begitu, menyeruak pula suara kritis. Beberapa melihat cerita ini sekedar sebagai “cerita indah” yang menyembunyikan eksploitasi tenaga kerja murah.
Hal ini memunculkan perdebatan terkait imigrasi. Mulai santer suara-suara yang menentang imigrasi besar-besaran.
Di sisi lain, tak dapat dipungkiri kebutuhan akan pekerja asing di perawatan dan pertanian karena robot belum bisa menggantikan sepenuhnya. Organisasi buruh seperti POSSE menyoroti isu gaji tak dibayar dan mendorong reformasi kebijakan.
Kisah perawat Indonesia di Hokkaido ini menjadi cermin bagi Jepang. Integrasi asing bukan lagi pilihan, tapi keharusan.
Saat negeri Sakura itu memasuki era super-aging, kolaborasi lintas budaya seperti ini mungkin menjadi kunci keberlangsungan bagi negara tersebut.
Sementara bagi para perawat dari Garut, ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini adalah misi kemanusiaan yang mendekatkan kedua bangsa. (TON)







