Dikukuhkan, Sutanto Hidayat Jadi Guru Besar ke-9 ITN Malang

Rektor ITN Malang Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE bersama Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT
(Rektor ITN Malang Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE bersama Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT. Credit: ist)

Rolasnews.com – Mengawali tahun 2022, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kembali menambah satu Guru Besar baru, yaitu Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT. Dengan demikian, total jumlah Guru Besar yang dimiliki ITN Malang sebanyak 9 orang profesor.

Bertempat di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, prosesi pengukuhan Guru Besar dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah tamu undangan. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT mengusung judul ‘Manajemen  Pembangunan Infrastruktur sebagai Penguat Kebijakan Publik Menuju Peningkatan Ekonomi yang Mapan’.

Read More

Disampaikan Prof Sutanto, berdasarkan hasil kajian dan laporan terbaru Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) bertajuk “Indonesia Critical Constraints”, ketersediaan dan kualitas infrastruktur menjadi salah satu dari tiga masalah yang harus segera dibenahi pemerintah.

Perbaikan dan pembangunan akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar adalah salah satu harapan yang berhak diperoleh masyarakat dan wajib diselenggarakan oleh pemerintah.

(Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar. Credit: Ist)
(Prof. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar. Credit: Ist)

“Berbicara soal kinerja pembangunan infrastruktur, berdasarkan World Economic Forum Report 2010, kualitas infrastruktur Indonesia secara keseluruhan berada di peringkat ke-96 dari 133 negara yang diteliti. Posisi itu jauh di belakang dua negara tetangga, Malaysia dan Thailand, yang masing-masing berada di peringkat 27 dan 41,” ungkapnya, Kamis (3/2/2022).

Hal ini disebabkan adanya Kendala kritis dalam pembangunan infrastruktur adalah lantaran rendahnya investasi publik, lemahnya kemitraan pemerintah dan swasta (KPS) dan minimnya investasi swasta, termasuk penanaman modal langsung oleh asing.

“Adapun faktor yang berdampak negatif pada pembangunan infrastruktur di Indonesia antara lain sulitnya pembebasan lahan, kapasitas SDM dan kelembagaan yang masih lemah, tata kelola pemerintah yang buruk, dan minimnya pembiayaan,” sebutnya.

Lebih lanjut Prof Sutanto berpesan kepada generasi muda, terutama dosen muda untuk tidak meniru dirinya dalam hal meraih guru besar di usia 66 tahun. Ia ingin para dosen muda bisa meraih segera gelar guru besar di usia ideal.

“Kalau semangatnya bolehlah ditiru. Tapi kalau leletnya (lambat) jangan. Saya termasuk orang yang lelet. Jadi yang muda jangan sampai lelet karena ebih cepat lebih baik,” tandasnya.

(Prosesi pengukuhan Guru Besar Pro. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT. Credit: Ist)
(Prosesi pengukuhan Guru Besar Pro. Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT. Credit: Ist)

Sementara itu Rektor ITN Malang Prof. Dr. Eng. Ir. Abraham Lomi, MSEE, mengaku bersyukur dan sangat mengapresiasi upaya Prof. Sutanto meraih gelar Guru Besar.

Menurutnya, di usianya yang cukup senior, Prof. Sutanto mampu memberikan motivasi kepada semua, khususnya dosen-dosen muda agar terus semangat dalam meraih gelar Guru Besar.

“Selamat kepada Prof. Sutanto karena beliau bisa membuktikan pada usianya tersebut mampu mendapatkan gelar guru besar atau profesor,” ucapnya.

Terlebih lagi, untuk meraih gelar profesor bukanlah hal yang mudah.

“Bahkan kalau kita lihat jumlah dosen di seluruh perguruan tinggi di Indonesia masih sedikit yang memperoleh gelar Doktor, apalagi gelar Profesor,” tandasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *