Rolasnews.com – Guna mendukung Green School atau Program Sekolah Adiwiyata, SDN Rangkah VI/168 Surabaya bekerjasama dengan orang tua/wali murid dan para siswa melakukan gerakan menerima dan menyalurkan minyak jelantah. Gerakan yang dilakukan setiap hari Jumat ini, dinamakan Pokja Minjel Paring (Kelompok Kerja Minyak Jelantah dan Sampah Kering).
Sebagaimana diketahui, minyak jelantah sebagian besar adalah limbah rumah tangga yang jumlahnya sangat banyak. Umumnya warga membuang jelantah begitu saja ke wastafel cucian piring, selokan dan ke tanah.
Tindakan yang demikian mustinya dihindari sebisa mungkin. Pasalnya, minyak sisa hasil penggorengan ini tidak bisa larut dalam air, bahkan bisa menyebabkan kerak di saluran air. Sementara kalau dibuang ke tanah, akan mencemarinya.
Sedangkan sampah kering yang terdiri dari botol plastik/kaca, kaleng bekas, bungkus makanan, kain, dlsb, jika dibiarkan menumpuk akan jadi masalah lingkungan dalam jangka panjang karena tidak bisa/sulit terurai. Selain itu, menumpuknya sampah kering juga akan menimbulkan pemandangan tidak sedap.
Berangkat dari permasalah tersebut, pihak sekolah SDN Rangkah VI/168 Surabaya menggandeng para siswa beserta orang tua mereka melalui gerakan Pokja Minjel Paring.



“Pokja ini salah satu tugasnya bekerja sama dengan guru, karyawan, orang tua/wali murid serta siswa SDN Rangkah VI/168 Surabaya untuk menerima dan menyalurkan minyak jelantah dari mereka,” kata Hari Prihartini Murdianti, ST. S.Pd, yang tergabung dalam Pokja Minjel Paring.

Hari Prihartini yang akrab disapa Bu Didien ini menambahkan, minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan diolah menjadi lilin, sabun batangan dan pengharum ruangan.
“Hasilnya sebagian ada yang dijual. Uangnya digunakan untuk mendukung Program Adiwiyata lainnya. Seperti membeli bibit tanaman, pot, pupuk, dll, untuk sekolah,” terangnya.

Minyak Jelantah Miliki Potensi Bisnis Menjanjikan
Kegiatan menerima dan memanfaatkan minyak jelantah ini, lanjutnya, dilakukan setiap hari Jumat di sekolah. Tentunya dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes).

Bu Didien menjelaskan Pokja Minjel Paring masih ada kaitannya dengan Program Adiwiyata, yakni program peduli lingkungan hidup, terutama di lingkungan sekolah. Gerakan ini juga bertujuan untuk mendukung Proyek Calon Pangeran Putri Lingkungan Hidup.
“Tahun ini sekolah mengirim Christabel_378 untuk proyek minjel. Siswa tersebut pernah memaparkan bahaya, manfaat pengolahan minyak jelantah di depan Kepsek, para guru dan anggota sekolah. Selain itu juga ada Rasya-225 dengan proyek tanaman pandan,” tutup alumni SMPN 12 Surabaya Angkatan 88 ini. (TON)







