Ngaji Braille

Logo Ngaji BrailleSekilas Ngabra 2019,…..

Tidak banyak yang memahami bahwa sesungguhnya menuntut ilmu bisa dilakukan di masyarakat melalui kegiatan sosial. Termasuk didalamnya kegiatan pengajian. Bukan soal konten dan motivasinya. Namun ini tentang bagaimana sebuah proses berkegiatan dilakukan. Dalam Berproses itulah terjadi “sekolah”, menuntut ilmu…

Ngaji Braille, atau kemudian disebut sebagai Ngabra, berproses sejak  Oktober 2014. Bermula 4 orang tuna netra sebagai peserta. Beranjak menjadi puluhan dan inklusi serta bukan hanya tuna netra sejak Juni 2016. Lalu memberanikan diri menggalang beasiswa dana transport ojek online dari zakat Maal donatur.

Sejak April 2019, Telkom melalui bidang CSR nya melakukan dukungan. Baik itu penyelenggaraan, peralatan maupun pelatihan pendukungnya dan itu mampu menggeliatkan kegiatan Ngabra, seakan melenting banyak kemajuan. Baik dari sisi penyelenggaraan, persiapan, ragam kegiatan serta perluasan jaringan peserta.

Ngabra mampu menjadi bagian dari strategi rekruitmen dukungan, relawan, dan sosialisasi disabilitas. Bukan hanya menyoal potensi namun juga paradigma positif tentang keberadaan disabilitas di tengah masyarakat. Menepis stigma buruk sebagai meminta minta.

Konten tahun 2019 lebih banyak diwarnai semangat berusaha baik dari sisi kewirausahaan, kreatifitas. Konten kewirausahaan diwarnai dengan mendatangkan narasumber dunia usaha. Kreatifitas dibarengi dengan penciptaan jingle Ngaji Braille. Konten Ngabra juga diwarnai sisi motivasi dari Komisi Penyiaran Indonesia tentang mewaspadai racun konten siaran. Ngabra 2019 ditutup dengan konten tentang penguatan paradigma disabilitas, mendatangkan narasumber pakar hypnoterapi.

Yang unik dan sekolah proses di Ngabra yakni sesi camp. Ini sebuah kegiatan “live in” dalam satu rumah dengan ragam disabilitas tinggal di sana. Ada muatan mejahit baju, memasak bersama, sholat berjamaah. Dari sisi potensi juga dipertajam dengan dua kali workshop berupa pengenalan jurnalistik dan pengenalan tata suara pada mesin sound system.  Ngabra 2019 juga mengetengahkan sisi unik sebuah angle program ADU SORO. Sebuah kegiatan yang saling berinteraksi antara Ipung Aswar dengan komunitas pemulung, bahwa harusnya tiada seorang pun yang merasa paling susah di dunia karena ada orang lain yang siap membantu

 

Ngabra, sebuah sekolah tanpa sengaja dengan kemasan motivasi religi

 

Ngabra 2020, Membuka Jalan

Dalam perjanalannya, Ngaji Braille menjadi pintu masuknya kerelawanan yang menjadi penggerak komunitas disabilitas. Tetap dengan semangat nilai nilai yang beradaptasi dari Komunitas Mata Hati. Yang terutama yakni disiplin tepat waktu. Sesi terakhir tahun 2019 disertai rekruitmen kesanggupan komitmen tepat waktu. Dari situlah Tim Ngabra 2020 berotasi…. 

 Ide dasar dari ajakan aktif dalam pergerakan sosial yang banyak dinamakan orang sebagai pengembangan komunitas (Community Development) seharusnya bermula dari cakupan terdekat dimana sumber gerakan itu bermula. Baik secara lokasi maupun keterlibatan emosional, visi, misi, dan sejenisnya.  Ngaji Braille harus mengakui bahwa penggiatnya justru berasal dari luar area base camp Ngabra di wilayah Rungkut Surabaya. Juga banyak relawan yang bukan berasal awal dari kounitas disabilitas itu sendiri (disabilitas dan keluarganya)

“Membuka Jalan” mempunyai makna bahwa tahun 2020 Ngabra akan berfokus pada penyelenggaraan area Rungkut Surabaya dan sekitarnya. Termasuk arae Kendangsari-Tenggilis Raya Surabaya.

Setidaknya melibatkan orang tua dimulai dengan ikut sertanya orang tua disabilitas penerima beasiwa Ngabra sebagi Tim Inti dan Tim Pendukung. Tim Inti mempunyai kewajiban mempersiapkan acara pada beberapa hari sebelumnya dan ada di lokasi penyelenggaraan 90 menit sebelum acara dimulai. Tim Pendukung menjadi panitia yg datang tepat waktu saat acara dimulai. Tidak hadirnya penerima beasiswa pada saat acara akan membuat gugur penerimaan beasiswa pada ybs pada periode bulan itu.

Hal di luar persiapan yang menjadi penting yakni keberadaan sosok tenaga kebersihan. Tahun 2019 ada sosok Mbak Santi. Tahun 2020 lebih dijaga oleh mbak Min. Kecil namun berarti.

Ada yang baru pada Tim Supervisi dan Kesekretariatan. Kali ini digawangi oleh Ani Damari (Sri Purwningsih A), Orang baru rasa lama yang menggantikan Dina Damayanti sebagai tim pendukung pada kegiatan rekreatif. Tim ini mengolah pendanaan digunakan sebagai fund rising yang peruntukkannya mengantisipasi kebutuhan ATK, makan/minum, bea ojek online, serta operasional komunikasi. Hal2 yang bersifat pendampingan, sosialisasi dan media visit, survey, dokumentasi, souvenir, juga termasuk dalam ranah ini…Tim Kesekretariatan juga membuat skenario audiensi informal dengan bertemu dengan narasumber/komuitas terpilih (purpose sampling). Ini juga termasuk yang baru yakni keinginan beberapa komunitas yg ingin berinteraksi dengan tim ngaji braille. Tim bermaksd mengadakan kunjungan on the spot bila diperlukan

Peningkatan Kapasitas dan Rekreatif merupakan hal yang tetap menjadi perhatian.  Dari sisi tim persiapan penyelenggaraan, tentu saja ada upaya peningkatan kemampuan. Baik itu ADL (activity daily living, aktifitas keseharian) maunpun motivasi. Ustadz Arif  (yang berputri tuna rungu) sebagai pendamping rohani mengusulkan ada semacam camp dan rekreasi religi. Mengunjungi situs agama dan outbond ringan merupakan salah satu diantaranya selain yang bersifat pelatihan secara mendalam karena dibarengi sholat berjamaah dan tauziah tingan setelahnya. Sesi diskusi beradu argumen merupakan sesi yang seru juga dalam Tim Ngabra.

Penyelenggaraan Ngaji Braille dengan tajuk tahun 2020, Membuka Jalan, bekerja sama dengan komunitas secara tentatif akan diselenggarakan pada :

9  Pebruari 2020, 5 April 2020, 7 Juni 2020, 9 Agustus 2020

4 Oktober 2020, 6 Desember 2020.

Menjadi strategis karena menjadi ajang silaturahim, sosialisasi dan aktualisasi. Artinya perpaduan unsur religi, aktualisasi, sosialisasi. Akan menjadi wadah aktualisasi kemampuan berkesenian, berjejaring dan motivasi keagamaan.  Ngaji Braille terbukti menjadi bagian strategis dari sosialisasi dan strategi pendekatan. Baik itu pada masyarakat pada umumnya dan keluarga disabilitas pada khususnya.

Lain daripada itu program Beasiswa Ngaji Braille yang dulunya hanya bermaksud satu tahun (2017-2018) berlanjut sampai saat ini. Dana diolah dari donatur dan zakaat maal.

GIAT NGAJI BRAILLE

  1. NGAJI BRAILLE

17 Agustus 2019, Base Camp KMH Rungkut Asri Surabaya

https://www.youtube.com/watch?v=Mi-iH77FU1g

  1. NGAJI BRAILLE

20 Oktober 2019, Ruang R. Wijaya BKKKS Jatim, Raya Tenggilis Surabaya

Giat Ngaji Braille periode Oktober 2019 bertema “Racun Dunia” bahwa  bukan hanya harta dan tahta tetapi para penyampai pesan dan konten informasi yang tidak benar juga merupakan racun duniia . Narasumber pada giat kali ini komisioner KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah)Ngaji Braille di KPID Jatim

Ngaji Braille di KPID Jatim-2

  1. NGAJI BRAILLE

22 Desember 2019, R. Hayam Wuruk BKKKS Jatim, Raya Tenggilis Surabaya

Ngaji Braille di BKKKS JatimGiat Ngaji Braille periode Desember 2019 mengambil tema “memaafkan…” dengan narasumber seorang hypnoterapis Bp R Amirul Yulianto, SE. Bahwa ada praktek-praktek dalam memaafkan baik itu untuk orang lain maupun diri sendiri.

Ngaji Braille di BKKKS Jatim-3Topik ini dipilih karena baik orang tua maupun rekan disabilitas bisa memaafkan dirinya dengan mencari “kunci potensi diri”.

Dalam giat kali ini dihadiri Ibu Hj Harbiah Sholahudin, seorang pendidik yang peduli disabilitas.Ngaji Braille Bersama Ibu Hj Harbiah Sholahudin