Rolasnews.com – Anggota Cartel Jalisco Nueva Generación (CJNG) melancarkan pembalasan massal yang brutal di seluruh Meksiko menyusul kematian pemimpin mereka, Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho, dalam operasi militer pada 22 Februari 2026.
Kekerasan ini meluas ke setidaknya 20 negara bagian, termasuk Jalisco, Guadalajara, dan Puerto Vallarta, dengan aksi pembakaran kendaraan, blokade jalan raya, serangan terhadap toko, bank, serta bentrokan bersenjata dengan pasukan keamanan Meksiko.
Dampaknya langsung terasa. Turis asing, termasuk warga Amerika Serikat, terjebak di resor pantai dan harus berlindung. Sementara helikopter militer terus melakukan patroli di sejumlah wilayah paling terdampak.
Korban jiwa tercatat mencapai lebih dari 70 orang, di antaranya 25 anggota National Guard yang tewas dalam enam serangan terpisah, puluhan anggota kartel, dan warga sipil tak berdosa.
Bos kartel narkoba, El Mencho, tewas di Tapalpa, Jalisco, setelah terluka parah dalam baku tembak dengan pasukan militer. Ia meninggal saat diterbangkan ke Mexico City untuk perawatan.
Dalam operasi itu, delapan anggota kartel lainnya ikut tewas, dan dua ditangkap. Tak lama setelah berita kematiannya tersebar, CJNG langsung bereaksi dengan taktik militer ala kartel, mirip insiden sebelumnya, termasuk penculikan dan serangan lanjutan.
Tak kurang dari 70 orang telah ditangkap terkait kekacauan ini. Dikabarkan anggota kunci CJNG seperti ‘El Tuli’ juga tewas dalam operasi susulan di Jalisco.
Kerahkan Ribuan Pasukan Keamanan
Pemerintah Meksiko di bawah kepemimpinan Presiden Claudia Sheinbaum merespons cepat dengan mengerahkan sekitar 10.000 pasukan tambahan untuk mengendalikan situasi.
Sheinbaum menyatakan bahwa “kedamaian, keamanan, dan normalitas” sedang dijaga, meski kekerasan masih berlangsung sporadis.
Para analis memperingatkan bahwa kematian El Mencho bisa memicu perang internal di CJNG karena perebutan kekuasaan, yang berpotensi memperpanjang kekacauan. Walaupun ini pukulan besar bagi kartel, CJNG diprediksi tetap kuat dalam perdagangan narkoba seperti fentanyl dan metamfetamin.
Situasi ini juga berdampak pada pariwisata dan ekonomi lokal. Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan bagi warganya untuk tetap waspada di wilayah terdampak.
Hingga 24 Februari 2026, kekerasan mulai mereda di beberapa area. Akan tetapi warga Meksiko masih was-was terkait perkembangan selanjutnya yang bisa saja ekskalasinya kembali meluas.



