AS Cabut dari 66 Organisasi Internasional, Imbas “America First”

AS Cabut dari 66 Organisasi Internasional, Imbas “America First”

Rolasnews.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 7 Januari 2026 menandatangani memo eksekutif yang memerintahkan penarikan negara tersebut dari 66 organisasi internasional.

Keputusan ini mencakup 31 entitas di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 lembaga non-PBB, seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menjadi dasar perjanjian iklim global, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), UN Women untuk kesetaraan gender, serta United Nations Population Fund (UNFPA) yang fokus pada kesehatan ibu dan anak.

Read More

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif pada Februari 2025. Saat itu Menteri Luar Negeri Marco Rubio ditugaskan mereview semua organisasi yang didukung AS.

Tak pelak, apa yang dilakukan AS itu langsung memicu perdebatan global.

Para pendukung melihatnya sebagai pembelaan kedaulatan nasional, sementara kritikus khawatir akan melemahkan kerjasama internasional.

“America First”

Penarikan ini didasari kebijakan “America First” yang menjadi ciri khas pemerintahan Trump.

Menurut memo Gedung Putih, organisasi-organisasi tersebut dianggap “bertentangan dengan kepentingan nasional AS” karena mempromosikan kebijakan iklim radikal, tata kelola global, dan program ideologis yang mengancam kedaulatan serta kekuatan ekonomi AS.

Trump berargumen bahwa banyak lembaga ini lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, seperti memaksa AS membayar kontribusi besar tanpa manfaat proporsional.

Review oleh Departemen Luar Negeri menemukan bahwa lembaga-lembaga ini sering kali mendukung agenda yang tidak sejalan dengan prioritas domestik AS, seperti pengurangan emisi karbon yang dianggap menghambat industri.

Selain itu, langkah ini mencerminkan sikap skeptis Trump terhadap multilateralisme, di mana AS lebih memilih bertindak mandiri daripada terikat aturan internasional.

Keuntungan bagi AS

Dari sudut pandang pemerintah AS, penarikan ini membawa beberapa manfaat langsung.

Pertama, penghematan biaya signifikan karena AS tidak lagi perlu menyumbang dana ke organisasi-organisasi tersebut. AS adalah kontributor terbesar untuk banyak lembaga PBB. Keluar dari entitas seperti UNFPA atau UN Women bisa menghemat miliaran dolar yang bisa dialihkan ke program domestik, seperti infrastruktur atau pertahanan.

Kedua, meningkatkan kedaulatan nasional. AS bisa lebih bebas menentukan kebijakan sendiri tanpa campur tangan internasional. Misalnya dalam isu iklim di mana Trump lebih memprioritaskan energi fosil untuk mendukung lapangan kerja.

Ketiga, menghindari “agenda global” yang dianggap ideologis, seperti promosi kesetaraan gender atau pengendalian populasi yang mungkin bertabrakan dengan nilai konservatif domestik.

Pendukung Trump menyebut ini sebagai langkah untuk “mengembalikan kekuasaan ke rakyat AS”.

Kerugian bagi AS

Namun di sisi lain, keputusan ini berpotensi merugikan AS dalam jangka panjang.

Pertama, hilangnya pengaruh global. Dengan keluar dari forum seperti IPCC atau UNFCCC, AS kehilangan suara dalam pembentukan kebijakan internasional, yang bisa membuat negara lain seperti China atau Eropa mendominasi isu-isu krusial seperti perubahan iklim.

Penentang kebijakan isolasionisme AS.

Kedua, risiko isolasi diplomatik. AS mungkin kesulitan membangun aliansi untuk menghadapi ancaman bersama, seperti pandemi atau konflik regional, karena dianggap mundur dari kerjasama global.

Ketiga, dampak ekonomi dan lingkungan. Keluar dari treaty iklim bisa menghambat akses ke teknologi hijau internasional dan memperburuk reputasi AS sebagai pemimpin dunia, yang berujung pada boikot perdagangan atau kerugian bisnis.

Kritikus, termasuk kelompok lingkungan seperti Natural Resources Defense Council, menyebut ini sebagai “mundur dari tanggung jawab global”. Terutama karena AS adalah penyumbang emisi karbon terbesar kedua di dunia.

Keputusan ini masih bisa berubah jika ada tantangan hukum atau perubahan kebijakan di masa depan. Akan tetapi untuk saat ini, hal itu menandai era baru isolasionisme AS.

Para ahli bahkan memperingatkan bahwa dunia mungkin menjadi lebih tidak stabil tanpa peran aktif AS di lembaga-lembaga internasional. (TON)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *