Rolasnews.com – Amerika Serikat tengah menghadapi lonjakan signifikan kasus influenza pada musim 2025-2026. Laporan terbaru Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengonfirmasi bahwa varian Influenza A(H3N2) subclade K kini menjadi strain dominan yang memicu jutaan kasus dan ribuan rawat inap.
Menurut laporan CDC pada 13 Desember 2025, diperkirakan telah terjadi setidaknya 4,6 juta kasus sakit, 49.000 rawat inap, dan 1.900 kematian akibat flu secara nasional.
Aktivitas flu meningkat tajam di banyak wilayah, dengan 17 yurisdiksi melaporkan tingkat influenza-like illness (ILI) tinggi atau sangat tinggi.
Dari virus influenza A yang disubtipe, sekitar 89-90% adalah H3N2, dan dari sampel yang dikarakterisasi genetik, 89,8% termasuk dalam subclade K.
Varian ini pertama kali signifikan terdeteksi pada Agustus 2025 dan kini mendominasi di sebagian besar negara bagian. Mirip dengan wabah di Inggris, Kanada, Jepang, dan Australia.
“Subclade K memiliki mutasi yang menyebabkan antigenic drift. Sehingga vaksin flu 2025-2026 kurang cocok terhadapnya,” kata pakar CDC dalam laporan FluView.
Secara historis, musim flu didominasi H3N2 cenderung lebih parah. Terutama pada lansia dan anak kecil, dengan risiko rawat inap serta kematian lebih tinggi.
Gejala flu H3N2 subclade K mirip flu musiman lainnya. Termasuk demam tinggi mendadak, batuk, nyeri otot, kelelahan ekstrem, dan sakit kepala.
Musim ini telah mencatat tiga kematian anak terkait flu.
Meski ada mismatch vaksin, CDC dan para ahli tetap merekomendasikan vaksinasi karena masih memberikan perlindungan parsial, terutama terhadap penyakit berat.
Data awal dari Inggris menunjukkan vaksin mengurangi risiko rawat inap hingga 70-75% pada anak dan 30-40% pada dewasa.
CDC menyarankan langkah pencegahan lain seperti cuci tangan rutin, hindari kerumunan, pakai masker saat sakit, serta konsultasi dokter untuk obat antiviral bagi kelompok berisiko tinggi.
Situasi terus berkembang, dengan puncak aktivitas flu diperkirakan pada Januari-Februari 2026. (TON)







