Rolasnews.com – Cahaya lampu Natal kembali menyinari Manger Square di depan Church of the Nativity, tempat yang diyakini sebagai lokasi kelahiran Yesus Kristus. Perayaan ini adalah untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir akibat konflik Hamas-Israel.
Sebelumnya, pada 6 Desember 2025, ribuan warga Palestina, termasuk keluarga Kristen dan Muslim, berkumpul menyaksikan penyalaan pohon Natal raksasa, menandai kembalinya perayaan publik setelah dibatalkan akibat perang di Gaza.
Perayaan tahun ini membawa harapan baru bagi Bethlehem di Tepi Barat, yang bergantung pada pariwisata religius.
“Kami hidup dari pariwisata, dan selama dua tahun terakhir pariwisata nol,” kata Wali Kota Bethlehem Maher Canawati kepada BBC.
Meski tanpa kembang api sebagai penghormatan atas penderitaan di Gaza, acara tersebut diisi paduan suara, parade, dan doa perdamaian.
Misa Tengah Malam pada 24 Desember nanti di grotto kelahiran Yesus diperkirakan lebih ramai dibanding tahun sebelumnya, meski belum mencapai tingkat pra-perang.
Kembalinya festivitas ini didorong oleh gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hamas sejak Oktober 2025. Namun, suasana tetap tercampur duka. Banyak warga Bethlehem memiliki keluarga di Gaza, dan ekonomi kota masih terpuruk akibat pembatasan pergerakan serta menurunnya wisatawan.
Natal Sederhana di Gaza
Sementara itu, di Gaza, komunitas Kristen kecil, sekitar 1.000 orang, merayakan Natal secara sederhana di tengah reruntuhan.
Di Gereja Holy Family, satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, umat menghias pohon Natal, membangun adegan kelahiran Yesus, dan mengadakan misa.
Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengunjungi Gaza pada 19-21 Desember 2025 untuk memimpin misa dan membagikan bantuan.
“Kita harus melihat ke depan dan membangun kembali,” katanya dalam homili (khotbah yang berkaitan dengan isi Kitab Suci dalam Katolik) sambil memuji keteguhan iman umat yang bertahan.

Anak-anak menerima hadiah sederhana seperti pakaian hangat dan permen. Hanya saja perayaan berlangsung muram karena trauma perang, pengungsian, dan suara tembakan sporadis.
Tidak ada laporan insiden kekerasan besar selama periode Natal di kedua wilayah, berkat gencatan senjata yang relatif bertahan lama. Namun demikian, ketegangan masih terasa. Pesan damai digaungkan di tengah konflik berkepanjangan di wilayah tersebut. (TON)







