Rolasnews.com – Yogyakarta kembali menjadi destinasi favorit wisatawan domestik selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), menyusul kekhawatiran banjir dan cuaca buruk di Bali. Pergeseran ini mendorong lonjakan okupansi hotel di Kota Gudeg hingga 60 persen. Sebaliknya, hunian penginapan di Bali, khususnya Karangasem, anjlok drastis hingga 40 persen dibandingkan tahun lalu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Deddy Pranowo, mengungkapkan bahwa banyak wisatawan yang awalnya berencana ke Bali beralih ke Yogyakarta demi keamanan dan kenyamanan.
“Ini peluang bagus, tapi jangan dimanfaatkan untuk naikkan harga seenaknya. Ini momen promosi jangka panjang,” ujar Deddy, Senin (22/12/2025), dikutip dari laman resmi PHRI.
Okupansi hotel di Yogyakarta, yang semula hanya 34 persen untuk periode 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, kini melonjak ke 60 persen. Banyak pemesanan dilakukan secara offline atau langsung di tempat.
Deddy optimistis angka ini bisa mencapai 80 persen jika cuaca tetap kondusif. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga integritas usaha pariwisata, termasuk menghindari kemacetan dan memastikan kualitas layanan prima.
PHRI DIY telah menetapkan aturan ketat soal harga. Kenaikan tarif diperbolehkan, tapi maksimal 40 persen dari harga normal, tergantung paket dan kebijakan hotel.
“Kami sepakati batas bawah dan atas. Pelanggar akan kena sanksi tegas,” tegas Deddy. Ia juga mengimbau wisatawan waspada terhadap penipuan reservasi hotel yang dimanipulasi, serta memilih akomodasi resmi untuk menghindari risiko.
Okupansi Hotel di Bali Anjlok
Sementara itu, di Bali, kondisi pariwisata tengah lesu. Ketua PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa, melaporkan penurunan hunian hotel sejak 1 Desember 2025, rata-rata hanya 30 persen.
Faktor utama termasuk banjir, longsor, pohon tumbang, sampah menumpuk, lingkungan kurang bersih, serta proyek penataan pantai di Candidasa yang menimbulkan kebisingan 24 jam.
“Banyak wisatawan batal menginap lama karena alat berat beroperasi di depan hotel. Prediksi puncak Tahun Baru 2026 hanya 70 persen, itupun wisatawan domestik dan cuma satu malam,” kata Kariasa di Hotel Ariras Candidasa, Senin (22/12/2025).
Ia menambahkan, pariwisata sangat sensitif terhadap isu lingkungan dan kesehatan. Seperti rabies atau demam berdarah, yang bisa membuat wisatawan enggan datang.
Penasihat PHRI Karangasem, I Wayan Tama, menyoroti pentingnya Sapta Pesona—aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan—sebagai fondasi industri wisata.
“Jika salah satu terganggu, kunjungan langsung batal. Masalah ini sistemik,” tegasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan wisata seperti Candidasa dan Padangbai sepi, tanpa wisatawan berlalu-lalang. (TON)







