Rolasnews.com – Ekspor ubi jalar Jepang kini meningkat pesat berkat kemajuan teknologi yang mampu mencegah pembusukan serta upaya penyesuaian produk dengan pasar global yang semakin berkembang. Ubi jalar berkualitas tinggi asal Jepang kini secara luas dikirimkan ke Asia, Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.
Menurut data dari Kementerian Pertanian Jepang, pada tahun 2023 negara itu mengekspor 6.200 ton ubi jalar. Nilainya mencapai hampir 2,9 miliar yen (sekitar Rp305 miliar), meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam periode sepuluh tahun terakhir.


Lonjakan ekspor ini terutama dimulai sejak tahun 2018, setelah pembukaan cabang toko diskon Don Quijote di Singapura pada tahun 2017, yang menggenjot popularitas ubi jalar Jepang di negara tersebut.
Kualitas Ubi Jalar Asal Jepang Dijaga Ketat
Seorang humas Don Quijote mengatakan banyaknya pihak yang kesengsem dengan ubi jalar Jepang karena kualitas produknya memang dijaga betul.
“Ubi jalar Jepang diseleksi ketat dan memiliki kadar gula tinggi. Diterima sebagai makanan manis yang lezat,” ujarnya dikutip dari Asahi Shimbun.
Saat ini, ubi jalar dari negara sakurat tersebut dijual dalam keadaan mentah maupun dipanggang di 47 gerai mereka di luar negeri.
Perusahaan Kushima Aoi Farm Co., yang berlokasi di Kushima, Prefektur Miyazaki, menguasai sekitar 20 persen dari total ekspor ubi jalar Jepang.

Perusahaan ini memiliki fasilitas penyimpanan berkapasitas 1.450 ton dan memperkerjakan sekitar 100 karyawan, setengah di antaranya berasal dari luar Jepang.
Setiap tahun, Kushima Aoi Farm menangani 10.000 ton ubi jalar hasil panen dari ladang mereka sendiri serta dari 280 petani mitra di seluruh Jepang. Sekitar 1.000 ton dari total tersebut diekspor ke 11 negara dan wilayah menggunakan kapal kontainer. Mayoritas produk dijual di supermarket lokal.
Mencegah Pembusukan
Proses pengiriman membutuhkan waktu antara satu hingga dua minggu untuk negara-negara terdekat. Dan lebih dari sebulan untuk tujuan di Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.
Mengingat durasi waktu yang dibutuhkan, tindakan pencegahan terhadap pembusukan selama pengiriman menjadi sangat krusial.
Di gudang penyimpanan Kushima Aoi Farm, suhu dan kelembapan dijaga tinggi agar goresan pada ubi dapat sembuh secara alami, membentuk lapisan pelindung yang dapat mengurangi risiko pembusukan.
Perusahaan Minamihashi Shoji di Kanoya, Prefektur Kagoshima, telah menerapkan metode disinfeksi menggunakan asam perasetat untuk mengurangi kemungkinan pembusukan pada ubi jalar selama proses pengiriman.

Metode ini menjadi solusi setelah mewabahnya penyakit busuk kaki pada tanaman ubi jalar pada musim gugur 2018, yang sempat menghancurkan produksi di Kagoshima dan Miyazaki.
Kushima Aoi Farm juga aktif menyesuaikan rasa ubi jalar dengan preferensi lokal melalui acara pencicipan di luar negeri.
Kendati respon positif atas ubi jalar panggang khas Jepang didapati dari 99 persen peserta, preferensi konsumen sangat bervariasi antar negara. Varietas tertentu, seperti Beniharuka, dianggap “terlalu lengket” di Jerman. Sementara varietas lain, seperti Miyazaki Beni, lebih disukai di Hong Kong namun kurang diminati di Asia Tenggara.
Tantangan Biaya Logistik
Seiring dengan prospek cerah ubi jalar asal Jepang, tantangan yang dihadapi juga tak mudah. Utamanya biaya logistik yang tinggi dan potensi kerugian karena pengiriman ubi yang mulai membusuk.
Hal ini membuat keuntungan dari ekspor tak jauh lebih tinggi dibandingkan dijual di pasar domestik.

Hanya saja, optimisme tetap ada.
“Varietas ubi jalar produksi Jepang pasti akan laku keras di pasar internasional jika kami terus meningkatkan kualitasnya,” ujar Shoto Horiuchi, wakil presiden Kushima Aoi Farm. (TON)





